KABAR MADURA | Pepatah “proses tidak mengkhianati hasil” benar-benar menggambarkan perjalanan Imam Agus Faizyal. Remaja Pamekasan kelahiran 26 Februari 2007 itu baru saja mengharumkan nama daerah dengan meraih juara tiga pada ajang Duta Generasi Berencana (GenRe) Jawa Timur 2025. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kerja kerasnya selama ini tidak pernah sia-sia.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Kisah Faiz bersama GenRe dimulai sejak dia masih duduk di bangku kelas X. Ketertarikannya muncul saat melihat para duta GenRe turun langsung memberi edukasi tentang isu-isu remaja. Dari sanalah Faiz terdorong untuk mencoba ikut seleksi tingkat kabupaten.
“Waktu itu seleksi GenRe kabupaten dapat juara satu. Setelah terpilih, tentunya kita berkewajiban untuk merealisasikan program yang sudah dirancang,” jelasnya, Rabu (10/9/2025).
Sejak saat itu, perjalanan Faiz dipenuhi pengalaman baru. Dia kerap turun langsung mengawal isu-isu seputar remaja, mulai dari edukasi tentang pergaulan bebas, kampanye setop perundungan dan narkoba, pencegahan stunting, hingga program untuk kelompok lansia.
Yang menarik, Faiz tidak hanya fokus pada anak-anak atau remaja. Dia juga menggandeng orang tua, terutama ayah, sebagai pihak yang punya peran besar dalam tumbuh kembang anak.
“Kita juga menyinggung terkait isu fatherless. Tentu dalam edukasinya, objek yang dituju para ayah-ayah. Kita juga melibatkan para ahli, sehingga diskusi dan edukasinya lebih terpercaya,” jelas anak kedua dari empat bersaudara itu.
Dedikasi dan konsistensinya membuat karier Faiz melangkah ke level regional. Menurutnya, menyandang predikat Duta GenRe Jatim bukan sekadar kebanggaan, melainkan tanggung jawab yang memotivasinya untuk terus berbuat lebih banyak.
Namun, keberhasilan itu bukan hal yang mudah. Siswa kelas XII SMAN 3 Pamekasan ini mengaku tidak menyangka bisa masuk tiga besar, sebab persiapannya hanya dalam waktu enam hari.
“Seleksi yang paling penting itu di tahap pertama, yakni administrasi. Sementara kita hanya punya waktu enam hari. Jadi kita prepare-nya sampai begadang, dibantu juga oleh FGI (Forum GenRe Indonesia),” urainya.
Keyakinannya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil kembali terbukti. Setelah melewati tahapan seleksi yang ketat, dia berhasil membawa pulang prestasi membanggakan untuk kota Gerbang Salam.
Tidak hanya fokus pada isu remaja, Faiz juga punya program unggulan bernama Lentera, yang menyasar masyarakat lansia. Baginya, kelompok usia sepuh juga perlu mendapatkan ruang agar tetap produktif dan aktif.
“Selain tentang keremajaan, kita juga menyasar lansia. Kegiatannya seperti senam bersama, pemeriksaan kesehatan, dan edukasi,” kata Faiz.
Di balik kesibukannya sebagai duta, prestasi akademik Faiz tetap terjaga. Dia konsisten berada di jajaran 10 besar di sekolah, aktif berorganisasi, hingga sering menorehkan kemenangan di lomba karya tulis ilmiah (KTI).
“Selama ini tidak ada kendala, aman terkendali. Kuncinya, kita harus menentukan skala prioritas, tanpa harus acuh ke kegiatan lainnya,” tutup remaja asal Desa Bettet tersebut. (zul)





