KABAR MADURA | Malam Minggu (21/9/2025) di Kafe Balada, Lawangan Daya, berubah menjadi ruang perjumpaan hangat antara pecinta literasi dengan gagasan-gagasan yang menggugah hati. Bedah buku Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama menghadirkan suasana penuh keakraban, namun sarat refleksi. Para hadirin larut dalam diskusi, seolah terhanyut ke dalam dunia cerita yang dirajut dengan begitu tajam oleh sang penulis.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Buku ini bukan sekadar kumpulan 20 cerpen dengan premis dan alur berbeda. Di balik setiap kisah, Sasti Gotama menyalakan obor tentang isu-isu kemanusiaan yang kerap hadir di sekitar kita: ketidakadilan, pelecehan seksual, kesehatan mental, hingga dinamika kuasa dalam hubungan antar manusia.
Menurut Sasti, ide-ide itu lahir dari realitas sehari-hari, dari kejadian-kejadian nyata yang menorehkan luka sosial. Salah satunya, kasus kekerasan di institusi pendidikan yang sempat mengguncang suatu daerah.
“Dari realistis itu saya ramu, tentu saja digabungkan dengan imajinasi,” jelasnya, Minggu (21/9/2025).
Penulis kelahiran Malang itu menyadari bahwa isu kemanusiaan telah lama menjadi bahan eksplorasi banyak pengarang. Namun, baginya, setiap tulisan adalah misi, sebuah upaya untuk memberi suara kepada yang bisu, membela mereka yang tertindas oleh sistem maupun budaya.
“Bisa dibilang, apa yang saya sajikan di buku ini untuk mencapai sebuah perenungan dari segala pertanyaan yang ada. Bahkan kalau bisa, dari luka kolektif itu bisa menjadi penyembuhan yang kolektif,” tutur Sasti.
Cerpen-cerpen dalam buku ini lahir dari analisis yang tajam dan disampaikan lewat metafora yang kuat. Misalnya, tentang perempuan yang kehilangan eksistensinya, dia tuangkan dalam simbol yang getir namun puitis: “Kupu-kupu yang Mencabuti Sayapnya Sendiri.”
Meski demikian, Sasti menegaskan bahwa pembahasan dalam karyanya tidak terbatas pada perempuan.
“Di buku ini pembahasannya di sini tidak berbatas pada gender perempuan saja. Ada juga kekerasan yang dialami oleh laki-laki,” tukasnya.
Bedah buku ini pun berakhir dengan nuansa reflektif. Bukan hanya sekadar diskusi sastra, melainkan juga ruang kontemplasi bersama, tentang luka, suara, dan harapan kemanusiaan. (zul)





