KABAR MADURA | Kelompok Cipayung Sampang menggelar aksi demontrasi di depan kantor Polres setempat, Rabu (24/9/2025). Mereka menilai Polres Sampang lamban dalam menyelesaikan sejumlah perkara, bahkan menduga aparat penegak hukum “masuk angin” dalam prosesnya.
Ketua Umum Korps Himpunan Mahasiswa Islam Putri (Kohati) Sampang Homsah mengatakan, lambannya penanganan kasus kekerasan seksual bisa jadi ada dugaan polres masuk angin.
“Kami menduga polres masuk angin, sebab kasus kekerasan seksual sudah berbulan-bulan tapi masih belum bisa diselesaikan,” ujarnya, Rabu (24/9/2025).
Pernyataan serupa juga disampaikan Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Sampang Juhairiyah. Dia menegaskan, aksi tersebut merupakan bentuk tekanan kepada Polres Sampang agar serius menangani kasus kekerasan seksual, sekaligus sebagai upaya pencegahan agar kasus serupa tidak terulang di 14 kecamatan yang ada di Sampang.
“Kami mengecam keras Kapolres Sampang jika belum juga menangani kasus ini. Jika tidak, kami akan turun ke jalan lagi dengan membawa massa yang lebih banyak untuk menuntut Kapolres turun dari jabatannya, karena tidak sesuai dengan tanggung jawabnya,” tegasnya.
Menanggapi tudingan tersebut, Kapolres Sampang AKBP Hartono mengklaim bahwa pihaknya sudah melakukan upaya maksimal dalam penyelesaian setiap kasus.
“Setiap apel selalu saya tanyakan kepada anggota-anggota saya yang menangani kasus ini, perkembangan kasusnya. Dalam kasus ini kami perduli sekali,” katanya.
Hartono juga memastikan bahwa Polres Sampang tidak sedang “masuk angin”. Namun, dia meminta, apabila menemukan anggotanya yang bermain-main dengan kasus, maka segera laporkan.
“Kalau ada anggota saya yang main-main, monggo silahkan dilaporkan. Buktikan dan inisialnya siapa, saya akan tindak tegas,” pungkasnya. (yan/zul)





