Kisah Inspiratif Ketua Komisi I DPRD Sampang Salim: Dari Jualan Bakso hingga Raih Kursi Parlemen

Harmoni157 views

KABAR MADURA | Lahir dari keluarga petani sederhana di pelosok Sampang, Salim membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Hidupnya ditempa kerja keras sejak kecil, merantau ke Jakarta demi kuliah sambil berjualan bakso, hingga aktif dalam gerakan kemanusiaan yang membela kaum lemah. Perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkannya duduk di kursi DPRD Sampang, membawa semangat perjuangan dari jalanan ke ruang parlemen.

SOFIYANTO, SAMPANG

Perjalanan hidup Salim, ketua Komisi I DPRD Sampang, adalah kisah tentang keteguhan hati. Terlahir di pelosok desa dari keluarga petani sederhana, dia tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi. Namun, keterbatasan itu justru menjadi bahan bakar semangatnya untuk berjuang.

“Suatu kebanggaan bagi saya, meski orang tua hidup dengan ekonomi yang serba kekurangan, tapi sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya. Saya masih ingat sekali, waktu kecil saya digendong saat berangkat sekolah dasar,” kenangnya dengan mata berbinar, Kamis (25/9/2025).

Sejak kecil, Salim sudah terbiasa ditempa oleh kerasnya hidup. Selepas SD, dia melanjutkan pendidikan di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Di sanalah jiwa perjuangan dan kepeduliannya terhadap sesama mulai ditempa.

Setelah nyantri, Salim melangkah lebih jauh, merantau ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jakarta, mengambil jurusan Fakultas Syariah dan Hukum.

“Waktu saya pamit kepada orang tua mau kuliah di Jakarta, ayah saya kaget karena dari segi ekonomi sudah tidak memungkinkan. Tapi, saya yakinkan bahwa setiap orang yang berniat mencari ilmu, semuanya akan dipermudah,” ujarnya.

Hidup di Ibu Kota tidak membuatnya menyerah. Salim justru menjadikannya tantangan. Dia berjualan bakso demi bertahan hidup dan membiayai kuliah. Selain itu, Salim membeli komputer rusak, membongkarnya, lalu menjual kembali suku cadangnya. Semua dilakukannya dengan penuh semangat agar tetap bisa kuliah.

Di sela-sela kesibukan akademik, Salim aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus. Kepeduliannya pada sesama diwujudkan melalui gerakan sosial yang fokus memberi bantuan untuk anak yatim dan kaum duafa.

Baca Juga:  UNIBA Madura Gelar PEKSIMA Perdana 2026, Wadah Bakat Seni Mahasiswa

Selepas menyelesaikan pendidikan di Unmuh Jakarta, Salim kembali ke tanah kelahirannya, Sampang. Jiwa kemanusiaannya kembali memanggil ketika kasus pembunuhan terjadi di Kecamatan Sokobanah pada 2019. Dia terjun langsung melakukan advokasi hingga kasus itu tuntas.

“Karena peristiwa itu saya lebih dikenal di Sokobanah dibandingkan di kampung sendiri, Karang Penang. Saya benar-benar fokus mengawal kasus itu,” ucapnya.

Nama Salim pun semakin dikenal masyarakat. Dukungan demi dukungan mengalir, hingga akhirnya dia didorong untuk maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024.

“Sebetulnya saya belum siap, tetapi karena dorongan masyarakat dan permintaan guru saya, akhirnya saya memutuskan maju. Saya sami’na wa atho’na,” ujarnya mantap.

Kini, Salim duduk di bangku parlemen. Namun, dia menegaskan politik baginya bukan sekadar perebutan kursi kekuasaan.

“Politik adalah jalan perjuangan. Saya ingin hadir untuk masyarakat, terutama mereka yang lemah dan sering terpinggirkan,” pungkas politisi Partai NasDem itu. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *