Pesantren Baiturrahman Pamekasan, Tempat Anak-Anak Kurang Mampu Menemukan Masa Depan

Ragam123 views

KABAR MADURA | Pesantren Baiturrahman, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, terus menunjukkan kiprahnya dalam mendidik para santri, khususnya bagi anak-anak yang kurang mampu dan membutuhkan perhatian. Pesantren yang berdiri sejak tahun 2001 itu hadir dengan misi kemanusiaan yang mulia. Anak-anak yang sebelumnya nihil harapan, kini mulai menemukan mimpi baru untuk masa depannya.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Berdirinya Pesantren Baiturrahman tidak pernah lepas dari dukungan masyarakat sekitar. KH. Ahmad Zayyaduz Zabidi sebagai pengasuh, yang juga aktif di Kementerian Agama (Kemenag) berinisiatif untuk mengakomodir anak-anak tidak mampu agar tetap bisa memperoleh pendidikan yang layak.

“Kala itu, kondisi masyarakat sekitar memang terbilang tidak mampu dan banyak anak-anak yang ditinggal merantau oleh orang tuanya. Sehingga, pengasuh berinisiatif untuk menampung mereka,” terang Ketua Pesantren Baiturrahman Muhammad Nadir, Rabu (22/10/2025).

Baca Juga:  Manasik Haji IBS PKMKK Tanamkan Kesadaran Spiritual dan Nilai Tauhid pada Santri

Lambat laun, pesantren yang kini menampung 72 santri itu terus berkembang dan berinovasi, mulai dari infrastruktur hingga penguatan lembaga pendidikan formal dan nonformal. Tahun 2007, pesantren mulai menampung 15 santri putra, kemudian disusul santri putri pada tahun 2011, meski kala itu belum ada asrama khusus putri.

Filosofi pendidikan Pesantren Baiturrahman sederhana namun kuat, yakni santri harus memiliki dasar keagamaan yang kokoh, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan zaman. Filosofi itu terealisasi dalam sistem pendidikan dan pembinaan yang dijalankan.

Pesantren ini menaungi berbagai lembaga pendidikan formal, seperti TK, MTs, hingga MA. Tidak hanya itu, pengetahuan soft skill juga dikembangkan dalam pesantren tersebut. Seperti Tahfidz Alquran, baca kitab kuning, hingga keterampilan vokasi dan teknologi, serta pengembangan bahasa asing, yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris.

“Untuk nonformalnya, kami ada diniyah, tingkat ula dan wustho,” tambahnya.

Baca Juga:  Mensos Ajak Pengasuh Pesantren se-Madura Sukseskan Program Prioritas Presiden

Uniknya, semua fasilitas yang diperoleh para santri adalah gratis, mulai dari biaya pendidikan hingga kebutuhan dasar makan di asrama. Bahkan, para santri juga dibiasakan untuk disiplin, mandiri, dan kerja sama.

“Santri makan tiga kali sehari. Semua bahan baku dan alat-alatnya ditanggung pesantren. Jadi mereka hanya mengolahnya saja. Setiap hari ada jadwal piket masak yang berbeda,” tuturnya.

Tidak hanya menampung santri kurang mampu, Pesantren Baiturrahman ini juga kerap menampung anak-anak yang notabenenya bermasalah dan dalam pengawasan khusus. Seperti anak-anak yang tersandung kasus narkoba, perundungan, korban pelecehan, atau bahkan tersandung kasus kriminal lainnya.

“Pembinaannya tentu berbeda dengan santri lain. Kami menghadirkan para ahli yang disesuaikan dengan kasus yang dihadapi. Kebetulan kami bermitra juga dengan dinsos,” tutup Nadir. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *