KOSABANGSA 2025: Dosen UIM-UTM Latih PKK Pinggirpapas Olah Kelor Jadi Garam Sehat dan Produk Kecantikan Bernilai Jual

Berita70 views

KABAR MADURA | Tim pengabdian masyarakat KOSABANGSA 2025 yang melibatkan dosen dari Universitas Islam Madura (UIM) dan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Kali ini, fokus kegiatan diarahkan kepada anggota Tim Penggerak PKK (TP PKK) Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Sumenep, melalui pelatihan intensif yang digelar pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Kegiatan utama pelatihan adalah penerapan Teknologi Garam Fortifikasi Kelor, dengan penekanan pada peran TP PKK sebagai produsen bahan baku bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi Paten untuk Peningkatan Nilai Gizi

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada pengolahan produk biasa, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan dari hasil riset perguruan tinggi, yakni Paten P00202103214 tentang metode optimasi ekstraksi senyawa bioaktif dari daun kelor.

“Ibu-ibu PKK kini dilatih untuk menjadi pemasok ekstrak kelor yang terstandar dan higienis,” ujar Ruly Awidiyantini, S.P., M.P., anggota tim pelaksana dari UIM.

JJS Kabar Madura

“Paten ini memastikan bahwa ekstrak yang dihasilkan memiliki kualitas nutrisi dan warna yang optimal, karena ini akan digunakan untuk proses fortifikasi garam KUGAR dan produk turunan lainnya,” imbuhnya.

Baca Juga:  LKPj Sumenep 2025 Disorot DPRD, Pemerataan Pembangunan Kepulauan Jadi Catatan

Proses pelatihan mencakup pemahaman detail tentang cara pengeringan daun kelor, penghalusan serbuk, hingga teknik maserasi yang higienis untuk menghasilkan ekstrak kaya nutrisi. Kualitas ekstrak tersebut menjadi aspek penting dalam menciptakan produk pangan fungsional yang siap bersaing di pasar modern.

Diversifikasi Produk Non-Pangan: Lulur dan Sabun Garam Kelor

Selain menghasilkan bahan baku fortifikasi, TP PKK Desa Pinggirpapas juga didorong untuk melakukan diversifikasi produk dengan memanfaatkan potensi kelor dan garam lokal secara maksimal.

Dalam sesi pelatihan, para peserta mendapatkan panduan praktis serta hands-on training untuk memproduksi prototipe Lulur Garam Kelor dan Sabun Garam Kelor.

“Diversifikasi produk non-pangan seperti lulur dan sabun ini merupakan strategi untuk meningkatkan omzet dan membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu di desa,” jelas salah satu fasilitator.

Menurutnya, dengan memanfaatkan garam lokal sebagai agen eksfolian dan kelor sebagai nutrisi kulit, produk ini memiliki daya jual yang tinggi di sektor perawatan tubuh alami.

Baca Juga:  Seleksi SonGENnep FC Diikuti 86 Pemain, Bidik Talenta Lokal untuk Liga Nusantara Jatim 2026

Kesiapan Digital Menuju E-commerce BUMDES

Keberhasilan pembuatan prototipe menempatkan TP PKK Desa Pinggirpapas dalam posisi strategis. Produk-produk bernilai tambah seperti ekstrak kelor, lulur, dan sabun kini siap diintegrasikan ke dalam ekosistem digital desa.

“Langkah selanjutnya adalah memastikan produk bernilai tambah tinggi ini, baik garam fortifikasi dari KUGAR maupun lulur atau sabun dari PKK, untuk segera di-upload ke platform e-commerce BUMDES,” ungkap Ketua Pelaksana, Aang Kisnu Darmawan, S.T., M.M.

Kata dia, ini adalah perwujudan dari target diversifikasi produk yang telah kami canangkan untuk memperluas jangkauan pasar tanpa batas geografis.

Tim juga telah menjadwalkan fasilitasi pengadaan peralatan produksi sederhana, seperti penghalus serbuk dan mixer, serta instalasi alat produksi segera setelah pelatihan. Langkah ini diambil untuk meningkatkan skala produksi TP PKK.

Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen program KOSABANGSA UIM-UTM dalam mewujudkan Blue Economy kawasan pesisir melalui kolaborasi inovasi dan digitalisasi yang berkelanjutan. (ara/waw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *