Kegelisahan Akademik; Menanggapi Fenomena Kekerasan Fisik Remaja saat Ini

Opini122 views

Oleh: Achmad Muhlis (Ketua Senat UIN Madura/ Direktur Utama IBS PKMKK/Sosiolog Pendidikan Islam)

Fenomena kekerasan fisik di kalangan remaja dewasa ini menjadi salah satu tantangan serius bagi dunia pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia. Aksi perundungan, tawuran, hingga kekerasan verbal dan non verbal di lingkungan sekolah dan masyarakat menunjukkan adanya gejala dekadensi moral dan krisis spiritualitas remaja yang perlu segera mungkin ditangani dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Tahun 2025 hingga Oktober ini saja, telah terjadi 25 kasus kekerasan fisik yang mengakibatkan kematian, di tambah korban kekerasan fisik yang terjadi di Kabupaten Pamekasan Baru-baru ini.

Dalam konteks pendidikan Islam, kekerasan fisik bukan sekadar penyimpangan perilaku, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan jiwa dan hilangnya nilai adab. Sejumlah pemikir besar Islam klasik seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Khaldun telah menguraikan prinsip-prinsip mendalam tentang bagaimana transformasi nilai spiritual menjadi kunci pembentukan akhlak dan karakter remaja saat ini.

Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa hati manusia merupakan pusat kendali perilaku. Ketika hati dipenuhi dengan amarah, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan, maka lahirlah perilaku keras dan destruktif. Upaya untuk mengatasi kekerasan remaja, menurutnya, harus diawali dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), melalui pembinaan akhlak, muhasabah, serta keteladanan spiritual dari para pendidik.

Sementara itu, Ibnu Sina melalui pendekatan filsafat dan psikologi pendidikan menegaskan bahwa masa remaja adalah fase kritis pembentukan akal dan emosi. Ketidakseimbangan antara rasio dan nafsu akan melahirkan perilaku impulsif dan kekerasan. Karena itu, pendidikan harus diarahkan untuk menumbuhkan hikmah (kebijaksanaan) dan kemampuan mengendalikan diri (self-regulation) agar para remaja mampu menghadapi konflik sosial secara rasional dan beradab.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Adapun Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah, memandang kekerasan remaja sebagai akibat melemahnya ashabiyyah (solidaritas sosial) dan hilangnya keteladanan moral dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Menurutnya, pendidikan harus menjadi sarana untuk membangun kembali kohesi sosial dan kesadaran tanggung jawab moral antar generasi, sehingga remaja tidak tercerabut dari akar nilai-nilai spiritual dan kebudayaan Islam.

Refleksi dari ketiga pemikir tersebut menunjukkan bahwa transformasi nilai spiritual dalam pendidikan Islam harus diarahkan pada pembentukan kepribadian utuh: intelektual, emosional, dan spiritual. “Pendidikan Islam sejatinya bukan hanya mencetak murid yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki qalbun salim – hati yang bersih, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Pendekatan keagamaan yang integratif dan humanis perlu diperkuat, termasuk dengan pembiasaan ibadah dalam keluarga, keteladanan guru, orang tua, masyarakat, dan penguatan budaya musyawarah di kalangan remaja. Hal ini sejalan dengan sebuah pandangan, bahwa transformasi spiritual merupakan bentuk resistensi terhadap budaya kekerasan dan individualisme yang kian meluas di era digital.

Pondok pesantren atau Lembaga Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai rahmatan lil ‘alamin kepada generasi muda. Dengan kembali kepada prinsip adab sebelum ilmu, kita dapat menumbuhkan kesadaran kritis-religius yang mencegah kekerasan sekaligus membangun karakter spiritual remaja yang kokoh.”

Hai…Para Remaja Indonesia, mari bergabung dengan pondok pesantren atau Lembaga Pendidikan yang berkomitmen membangun generasi berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa sosial. Melalui riset dan pembinaan berbasis nilai-nilai Islam klasik dan pendekatan sosiologis, pesantren terus mendorong terciptanya masyarakat yang damai, adil, dan berkeadaban.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *