Etika Non-Transaksional “nyêmbê ê pêttênggãh”: Kepemimpinan Melayani-Pengabdian Tanpa Pamrih

Opini51 views

Oleh: Achmad Muhlis

Ketua SENAT UIN Madura / Direktur IBS PKMKK

Pada saat dunia yang semakin pragmatis, penuh kepentingan, dan sering kali menempatkan imbalan sebagai ukuran nilai sebuah tindakan, masyarakat Madura menyimpan sebuah pepatah yang menggugah nurani, yakni “nyêmbê ê pêttênggãh”, yang memiliki makna yang sangat luas yakni sebuah tindakan tulus yang dilakukan tanpa menunggu permintaan, tanpa memikirkan imbalan, tanpa kepentingan pribadi, dan tanpa syarat balas budi. Hal ini menjadi simbol sikap manusia yang rela hadir dan membantu saat dibutuhkan, meskipun tidak ada jaminan konsekuensi, ucapan terima kasih, atau pengakuan apa pun. Ungkapan lokal yang sarat akan nilai kemanusiaan dan etika sosial.

Secara kultural, ungkapan ini menggambarkan tindakan menolong, bekerja, atau turun tangan pada waktu paling menentukan, tanpa menunggu permintaan, tanpa bertanya siapa yang dihadapi, dan tanpa memikirkan apa yang akan diperoleh sebagai balasan.

Kehidupan masyarakat Madura yang dikenal menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung pada ungkapan “nyêmbê ê pêttênggãh”, akan menjadi pilar moral yang menegaskan bahwa pengabdian sosial harus dilaksanakan dengan ikhlas, lapang, dan bebas dari kalkulasi imbalan. Ungkapan ini merepresentasikan tindakan etis tanpa syarat, yakni sebuah nilai yang semakin penting dalam dunia sosial-politik saat ini yang cenderung transaksional.

Pada satu sisi “nyêmbê ê pêttênggãh” merepresentasikan etos kepedulian murni, yaitu melakukan sesuatu karena ia benar, bukan karena ia menguntungkan. Nilai ini sudah lama tertanam dan menjadi pedoman hidup masyarakat Madura, terutama dalam hubungan sosial, solidaritas desa, kehidupan pesisir, dan budaya saling menolong. Sementara dalam dalam konteks sosial, “nyêmbê ê pêttênggãh” menunjukkan bagaimana masyarakat Madura menempatkan aksi dan kehadiran sosial di atas retorika atau formalitas. Nilai ini selaras dengan teori solidaritas mekanik Émile Durkheim, yang menyatakan bahwa kohesi masyarakat tradisional terbentuk melalui nilai bersama dan tindakan sukarela demi kebaikan bersama.

Bagi orang Madura, nyêmbê ê pêttênggãh” adalah mereka yang menolong dengan cepat, hadir tanpa diundang, dan bekerja tanpa meminta penghargaan. Ketulusan ini memperkuat jaringan solidaritas dan menanamkan rasa percaya antarkelompok, terutama di masyarakat pedesaan dan pesisir.

Baca Juga:  Lapar yang Terlihat, Etika yang Dipertaruhkan: Antara Kebebasan Individu dan Etika Sosial

Dalam kajian sosial-politik, tindakan tanpa pamrih seperti yang dimaksud dalam ungkapan ini memiliki nilai strategis bagi keberlangsungan demokrasi dan moralitas publik. Nilai “nyêmbê ê pêttênggãh” menjadi antitesis dari budaya patronase yang menuntut balas jasa. Sehingga ungkapan ini akan membentuk etika politik non-transaksional, yang mengutamakan kehadiran pemimpin atau warga sebagai bentuk kepedulian, bukan investasi politik dan ini yang di sebut sebagai action murni, yakni tindakan yang dilakukan bukan untuk mendapatkan kekuasaan, melainkan demi kehadiran dan kebermaknaan bagi orang lain. Nilai ini juga sejalan dengan konsep servant leadership, yang menyatakan bahwa, pemimpin sejati adalah mereka yang melayani terlebih dahulu sebelum mengharapkan pengaruh atau otoritas.

Masyarakat Madura, melalui filosofi “nyêmbê ê pêttênggãh”, telah mempraktikkan model kepemimpinan ini jauh sebelum teori modern berkembang, di mana pemimpin harus di hormati bukan karena jabatan, tetapi karena kesigapan dan ketulusannya hadir di tengah masyarakat, terutama pada saat-saat kritis. Durkheim menyebutnya, dengan tindakan sukarela tanpa kepentingan sebagai perekat sosial (moral glue) yang menjaga kohesi masyarakat, yang akan menciptakan rasa saling percaya. Modal sosial seperti ini, penting dalam politik dan komunitas modern.

Sementara sudut pandang psikologi, nilai yang terkandung dalam “nyêmbê ê pêttênggãh” berkaitan dengan konsep altruism, tindakan menolong tanpa harapan balasan. Altruisme sejati, lahir dari empati yang murni, bukan karena keuntungan sosial maupun emosional. Sementara Abraham Maslow menegaskan bahwa individu yang matang secara moral adalah mereka yang mampu bertindak bukan karena kebutuhan dasar, tetapi karena nilai yang diyakini benar. Ungkapan “nyêmbê ê pêttênggãh” bagi masyarakat Madura telah melampaui motivasi pribadi dan bertindak berdasarkan nilai luhur yang sudah terinternalisasi dalam budaya keluarga dan komunitas.

Dalam tradisi Islam, tindakan tanpa harapan imbalan disebut Ikhlas, yakni sebuah tindakan yang memiliki kualitas utama yang menuntut seseorang untuk bertindak demi kebaikan, bukan demi citra atau keuntungan. Ikhlas itu adalah ketika seseorang beramal tanpa memandang dirinya, tanpa mengharap pujian, dan tanpa mencari balasan kecuali ridha Allah, dan inilah amal yang paling berat timbangannya yakni amal yang dilakukan dengan hati yang bersih dari kepentingan diri.

Baca Juga:  UNIBA Madura Gelar PEKSIMA Perdana 2026, Wadah Bakat Seni Mahasiswa

Nilai “nyêmbê ê pêttênggãh” menjadi kontra-narasi penting. Tradisi ini mengajarkan bahwa, tidak semua kebaikan harus dicatat, tidak semua bantuan menuntut balasan, dan tidak semua tindakan harus memiliki keuntungan politik atau materi. Bagi lembaga, pemerintah, dan organisasi sosial, nilai ini dapat menjadi model pembangunan karakter, pelayanan publik, dan etika kerja berbasis kehadiran murni (pure presence), yakni kehadiran karena panggilan moral, bukan transaksi sosial.

Kearifan lokal Madura memuat etika yang halus, yang tidak tampak dalam kata-kata, tetapi nyata dalam tindakan. “nyêmbê ê pêttênggãh” bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan falsafah ketulusan dan pengabdian yang menekankan bahwa tindakan terbaik adalah tindakan yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa menunggu imbalan, tanpa menghitung untung rugi, dan tanpa memikirkan balas jasa. Nilai ini merupakan warisan penting bagi masyarakat Madura dan menjadi model moral yang patut diangkat dalam pembentukan karakter bangsa, kepemimpinan publik, dan etika sosial modern.

Ungkapan ini menjadi kritik halus terhadap fenomena sosial-politik modern, yakni budaya balas jasa, politik transaksional, bantuan yang hanya diberikan ketika ada kepentingan, dan relasi sosial yang diukur dari keuntungan pribadi. “nyêmbê ê pêttênggãh” mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat dibangun oleh warga yang rela menolong bukan karena kekuasaan, uang, atau imbalan politik, tetapi karena nurani dan rasa kemanusiaan. Hakikatnya, ungkapan ini mengajarkan, kebaikan tidak perlu ditunggu, pertolongan tidak perlu diminta, ketulusan tidak membutuhkan panggung, karena tindakan tanpa pamrih adalah fondasi kuat bagi masyarakat, lembaga, dan kepemimpinan yang bermartabat.

Jika Kearifan lokal ini, dihidupkan kembali, maka dapat menjadi pencerah bagi hubungan sosial, tata kelola lembaga, hingga pembangunan politik yang lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *