Mengenang Moh Mashur Abadi dan Gagasan Kemandirian Rakyat

Opini97 views

Oleh: Dr. Moch Cholid Wardi, Sekretaris LPPM UIN Madura dan Direktur pengembangan Bahasa IBS PKMKK.

Di tengah persiapan jamaah haji menuju ritual ARMUZNA dan manusia dari berbagai penjuru dunia mulai berdatangan untukmemenuhi panggilan Allah, ada satu kabar yang justrumenghadirkan kesunyian mendalam dalam batin saya. Saya, Moch Cholid Wardi, Sekretaris LPPM UIN Madura, benar-benarmerasa kehilangan mendengar kabar wafatnya Bapak Moh Mashur Abadi, seorang akademisi senior dalam dunia pendidikan tinggi Islam, sang penjaga nalar, penggagas arahperadaban, dan seorang guru yang diam-diam menanamkan caraberpikir kepada banyak orang di sekitarnya. Kami bersama sejak2016 di LPPM, sehingga di mata saya, ia adalah guru, pembimbing, sahabat diskusi dan pimpinan lembaga.

Pak Mashur panggilan akrabnya merupakan sosok yang bekerjadengan teori, mengaktualisasikan diri melalui keteladananberpikir dan kedalaman sikap selama hidupnya. Ia senantiasamenyampaikan ilmu pengetahuan dan menunjukkan bagaimanailmu itu seharusnya diperlakukan dengan penuh kehati-hatian, penuh tanggung jawab, dan sadar akan peradaban. Salah satu halyang paling membekas darinya adalah kehati-hatiannya memilihdiksi, baik dalam ucapan maupun tulisan. Dalam dunia akademik modern di mana kata-kata dipilih dengan terburu-buru, retorika dipentaskan tanpa kedalaman, dan opinidiproduksi secara instan, ia justru hadir sebagai sosok yang mengajarkan bahwa kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin cara berpikir dan etika intelektual seseorang. Ia sering sekali menyampaikan bagaimananamingadalahpuncak tertinggi dalam pengetahuan.

Kehati-hatiannya dalam memilih kata menunjukkan bahwabahasa merupakan medium penyampai informasi dan pada saatyang sama sebagai alat pembentuk realitas sosial. Kata-kata menurutnya memiliki kekuatan membangun kesadaran kolektifmasyarakat. Karena itu, seorang intelektual tidak bolehsembarangan menggunakan bahasa, sebab setiap diksimembawa konsekuensi epistemologis dan sosial. Pak Mashurtampaknya memahami betul bahwa peradaban besar seringruntuh bukan hanya karena krisis ekonomi atau politik, tetapijuga karena runtuhnya tanggung jawab moral dalam berpikir dan berbahasa.

Moh Mashur Abadi juga merupakan sosok yang memilikidisiplin intelektual yang sangat unik. Saya masih seringmenyaksikan bagaimana beliau menghadiri berbagai agenda rapat sebagai Ketua LPPM tanpa membawa catatan khusus, tetapi hampir tidak pernah melupakan substansi pembicaraan. Ingatan beliau sangat kuat, seakan setiap percakapan dan gagasan langsung tersusun rapi dalam kesadaran intelektualnya. Kemampuan seperti itu menunjukkan adanya deep cognitive engagement, yaitu keterlibatan berpikir sangat mendalamterhadap setiap persoalan yang dihadapi. Beliau tidak sekadarmendengar untuk menjawab, tetapi mendengar untuk memahamisecara utuh.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Yang paling fundamental dari sosok Moh Mashur Abadi sesungguhnya terletak pada keberpihakannya terhadap rakyat kecil dan kemandirian masyarakat. Di tengah arus modernisasiakademik yang sering menjadikan riset hanya sebagai alatmemenuhi administrasi atau mengejar reputasi institusi, ia justrumenghadirkan orientasi riset yang sangat membumi, yaknibagaimana ilmu pengetahuan harus menjadi jalanmembangkitkan kembali kemandirian rakyat.

Beliau memiliki gagasan besar tentang research design yang orientasinya bukan semata menghasilkan publikasi ilmiah, tetapimenemukan kembali potensi masyarakat yang selama ini hilangakibat modernisasi dan kapitalisme global. Bagi beliau, rakyat tidak boleh hanya menjadi konsumen pembangunan atau obyekkebijakan negara, tetapi harus kembali menjadi pelaku utamaperadaban. Inilah yang membuat pemikiran beliau terasa sangat berbeda dan sangat mendalam.

Pemikiran tersebut sesungguhnya merupakan kritik terhadapmodernisasi yang terlalu sentralistik dan kapitalistik. Modernisasi yang menyebar melalui kolonialisme Barat telahmengubah struktur sosial masyarakat tradisional secara besar-besaran. Teknologi lokal yang dulunya hidup dan berkembang di tengah masyarakat perlahan dihancurkan oleh logika industrikapitalis modern. Padahal secara historis dan antropologis, masyarakat desa di Nusantara pernah memiliki sistem teknologimandiri yang memungkinkan mereka bertahan dan membangunkehidupannya sendiri.

Ia sering menjelaskan bahwa hampir setiap desa atau kawasanpada masa lalu memiliki bentuk teknologi lokal yang sesuaidengan kebutuhan ekologis dan sosial masyarakatnya. Teknologiitu lahir dari pengalaman panjang, dari interaksi manusia denganalam, dan dari kecerdasan kolektif rakyat yang diwariskanturun-temurun. Dalam masyarakat maritim misalnya, terdapatteknologi perahu, sistem navigasi, pengolahan hasil laut, hinggapola perdagangan yang sangat maju. Karena itu, beliau seringmengatakan bahwa masyarakat maritim sesungguhnya identikdengan masyarakat industri, sebab budaya kemaritimanmelahirkan keberanian berinovasi, kemampuan adaptasi, dan kreativitas teknologi.

Namun menurutnya, problem besar mulai muncul ketikamodernisasi Barat masuk melalui kolonialisme denganmembawa sistem kapitalisme global. Teknologi rakyat perlahandianggap primitif dan tidak modern. Negara modern kemudianmengambil alih hampir seluruh aspek pemenuhan kebutuhanmasyarakat yang sebelumnya dikelola secara mandiri oleh rakyat. Akibatnya, masyarakat kehilangan kemandirianekonominya, kehilangan pengetahuan lokalnya, bahkankehilangan kepercayaan dirinya sebagai pelaku peradaban.

Kondisi tersebut melahirkan apa yang disebut dependency mentality, yaitu mentalitas ketergantungan yang membuatmasyarakat merasa tidak mampu membangun dirinya tanpaintervensi negara atau sistem industri besar. Padahal masyarakattradisional sebenarnya memiliki modal sosial, pengetahuanlokal, dan kemampuan adaptif yang sangat kuat. Hanya saja, semua itu perlahan terpinggirkan oleh narasi modernitas yang menganggap kemajuan hanya lahir dari teknologi industrimodern.

Harapan besar Pak Mashur tertuju pada riset dan pengabdianyang fokus pada sisi STEM tradisional rakyat, yakni science, technology, engineering, and mathematics yang hidup dalampraktik budaya masyarakat. Beliau percaya bahwa dalam tradisirakyat sesungguhnya tersimpan kecerdasan teknologi yang luarbiasa. Mulai dari sistem pertanian tradisional, pengelolaan air, teknologi maritim, arsitektur lokal, hingga pengobatantradisional. Baginya, semua mengandung logika ilmiah yang dapat dikaji dan dikembangkan kembali.

Ia menginginkan dan mengangankan riset serta pengabdian para akademisi yang menghasilkan outputoutcome untukmembangkitkan martabat rakyat. Ketika teknologi tradisionalditemukan kembali dan dikembangkan secara ilmiah, masyarakat akan kembali memiliki rasa percaya diri terhadapbudayanya sendiri. Ketika kemampuan kolektif ini muncul, sesungguhnya proses membangun peradaban sedang dimulaikembali.

Berada di Mekkah dan mendengar kabar wafatnya beliau sepertimenayangkan kembali semua percakapan dan gagasan Istimewa tersebut. Kata-katanya seperti jernih terdengar bersama air mukadan bahasa tubuhnya yang terasa jelas sekali di pelupuk mata. Ada rasa kehilangan yang sangat dalam karena sosok sepertibeliau jelas tidak akan mudah ditemukan. One in a million, even a trillion. Dalam dunia akademik yang semakin pragmatis, beliau tetap menjaga idealisme bahwa ilmu harus berpihakkepada manusia, kepada rakyat kecil, dan kepada masa depanperadaban.

Mungkin benar bahwa manusia akan meninggalkan dunia pada masing-masing waktu yang telah ditentukan. Hanya saja, adasegelintir yang kepergiannya membuat orang lain sadar bahwaselama ini mereka hidup bersama seseorang yang diam-diamsedang menjaga arah berpikir banyak orang. Moh Mashur Abadi tampaknya termasuk sosok seperti itu. Ia  meninggalkankenangan dan kegelisahan intelektual serta tanggung jawabmoral kepada generasi setelahnya: apakah ilmu akan terusmenjadi alat kekuasaan dan pasar, atau kembali menjadi jalanmembangun kemandirian dan martabat rakyat.

Saya merasa bahwa doa terbaik untuk beliau adalah memohonampunan dan rahmat Allah, namun yang paling penting adalahsemoga para akademisi yuniornya dapat melanjutkan cita-citaintelektualnya: membangun ilmu yang membebaskan, membangkitkan teknologi rakyat, dan mengembalikanmasyarakat sebagai subyek utama peradaban.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *