Layanan PDAM Sumekar Dikeluhkan Warga Gunggung: Air Sering Mati, Tagihan Tetap Membengkak

Pemerintahan40 views

KABAR MADURA | Layanan Perumda Air Minum Sumekar atau PDAM Sumekar di Sumenep kembali menuai keluhan. Kali ini datang dari warga Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, yang mengaku resah akibat pasokan air yang tidak normal. Air kerap mati, sementara alirannya pun sangat kecil saat menyala.

Ironisnya, di tengah kondisi pasokan yang jauh dari kata layak, tagihan air justru tetap membengkak dan dinilai tidak sebanding dengan layanan yang diterima pelanggan.

“Saya dua bulan terakhir harus bayar Rp200 ribu, padahal airnya sering mati. Kalau hidup pun cuma kecil sekali. Ini jelas tidak masuk akal,” keluh Fajar, salah satu pelanggan PDAM di Desa Gunggung.

Baca Juga:  PK PMII UNIBA Madura Fasilitasi Dialog, Krisis Lingkungan di Sumenep Jadi Sorotan

Menurut Fajar, hingga kini tidak ada penjelasan pasti dari pihak PDAM terkait penyebab gangguan aliran air tersebut. Kondisi ini, kata dia, sudah berlangsung sekitar dua bulan dan sangat mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

“Kami juga tidak tahu penyebabnya apa. Yang jelas, kondisi sering mati seperti ini sudah berjalan dua bulan. Mau masak, mandi, sampai kebutuhan usaha semuanya terganggu,” tegasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya. Mereka berharap PDAM tidak hanya menagih kewajiban pelanggan, tetapi juga bertanggung jawab memastikan hak warga atas air bersih terpenuhi secara layak dan berkelanjutan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Perumda Air Minum Sumekar Sumenep Febmi Noerdiansyah membenarkan adanya masalah pasokan air di wilayah Desa Gunggung. Ia mengakui gangguan tersebut memang telah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih dalam proses penelusuran.

Baca Juga:  PK PMII UNIBA Madura Fasilitasi Dialog, Krisis Lingkungan di Sumenep Jadi Sorotan

“Teman-teman di lapangan masih terus mencari titik persoalan yang menyebabkan gangguan aliran air itu. Sambil menunggu normal kembali, kami maksimalkan distribusi air lewat mobil tangki,” ujar Febmi.

Terkait tagihan yang dikeluhkan warga, Febmi menegaskan bahwa penagihan dilakukan berdasarkan pemakaian sesuai angka meteran (kilometer) masing-masing pelanggan.

“Tagihan itu pasti menyesuaikan dengan penggunaan yang tercatat di meter pelanggan. Penagihan dilakukan berdasarkan angka tersebut,” tandasnya. (ara/waw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *