KABAR MADURA | Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya eksistensi digital, nilai luhur tolong-menolong menghadapi tantangan serius. Kebaikan kini tak jarang dipertontonkan, direkam, dan disebarluaskan demi viralitas. Fenomena ini mendapat sorotan kritis dari Presiden Mahasiswa Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, M. Rofiqul Mukhlisin.
Dalam program dialog SPADA Muda Ngide di Pro 2 RRI Sumenep, Senin (19/1/2026), Rofiqul menegaskan bahwa orang yang ditolong bukanlah objek konten. Menurutnya, menjaga harga diri dan kemanusiaan penerima bantuan merupakan inti dari nilai keindonesiaan sekaligus etika sosial yang tidak boleh dikorbankan demi sorotan publik.
“Ketika bantuan direkam dan dipublikasikan tanpa mempertimbangkan perasaan penerima, di situlah nilai kemanusiaan mulai tergerus. Menolong seharusnya memuliakan, bukan mengeksploitasi,” tegas Rofiqul.
Dia menilai, di era ketika kebaikan bisa viral hanya dalam hitungan detik, keikhlasan justru menjadi perjuangan moral paling berat sekaligus paling penting. Budaya pamer kebaikan, lanjutnya, berpotensi menggeser orientasi menolong dari kepedulian menjadi pencitraan.
Meski demikian, Rofiqul tidak menafikan peran viralitas sepenuhnya. Ia mencontohkan sejumlah gerakan kemanusiaan seperti Play for Sumatra dan aksi solidaritas serupa yang memanfaatkan viralitas sebagai alat, bukan tujuan utama.
“Viralitas bisa memperluas manfaat jika diletakkan pada posisi yang tepat. Masalah muncul ketika viral dijadikan tujuan utama. Di titik itu, moralitas perlahan kehilangan arah dan kita masuk pada krisis etika,” ujarnya.
Lebih jauh, Rofiqul mengajak generasi muda untuk melakukan refleksi kritis atas setiap aksi sosial yang dilakukan dan dibagikan ke ruang publik.
“Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah yang kita kejar sorotan, atau keselamatan sesama? Viral akan berlalu, tetapi moral menentukan siapa kita sebagai manusia dan sebagai bangsa,” pungkasnya. (ara/waw)





