Dari Madura untuk Sumatra (Seri 5) Catatan Perjalanan Penyaluran Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh, Sumut, dan Sumbar

Harmoni86 views

M. Khairul Umam dan Azif Mawardi Zein: Jurnalis Kabar Madura dan Tim Relawan Bawang Mas Grup

Beratnya medan dan padatnya agenda membuat waktu terasa begitu sempit, bahkan untuk sekadar meregangkan badan. Lelah yang menumpuk akhirnya berdampak pada jadwal menulis reportase yang tak lagi teratur. Karena itu, catatan perjalanan kali ini saya rangkum dari rangkaian kegiatan sejak Sabtu, 17 Januari hingga Senin, 19 Januari 2026.

Hari-hari di Aceh perlahan membentuk kebiasaan baru. Alas kaki bukan lagi kebutuhan utama. Kami lebih sering membiarkan telapak kaki bersentuhan langsung dengan tanah dan lumpur, semacam olahraga ringan sekaligus ujian ketahanan diri, agar benar-benar merasakan kerasnya tanah bencana yang kami pijak.

Sabtu pagi, 17 Januari 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, kami kembali mengikuti briefing bersama relawan Wahana Muda Indonesia (WMI) di posko Kecamatan Manyak Peyat, Aceh Tamiang. Setelah hampir sepekan di Aceh, ritme waktu setempat mulai kami pahami. Jika di awal kedatangan pukul 09.00 terasa sudah sangat terik, karena kebiasaan zona waktu Madura, kini justru terasa masih pagi. Apalagi waktu Subuh di Aceh baru masuk sekitar pukul 05.20 WIB, berbeda dengan Madura yang lebih awal.

Dalam briefing tersebut, tim Bawang Mas Group kembali dibagi dua. Tim pertama, yang terdiri dari saya sendiri, M. Khairul Umam, Solihin Pure, serta Bukhori Muslim, rekan dari Medan, ditugaskan menyalurkan bantuan ke Dusun Sukamaju, Desa Pangidam, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang.

Sementara itu, tim kedua yang beranggotakan Azif Mawardi Zein, Badrul Rozi, Khairul Rozi, dan Dedi HS melanjutkan agenda ke Kampung Durian, Kuala Simpang, Aceh, untuk kembali menggelar kegiatan trauma healing sekaligus menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak di lokasi pengungsian.

Namun sebelum semua agenda itu berjalan, ada satu peristiwa penting yang patut dicatat. Pada Jumat sore, 16 Januari 2026, sepulang dari penyaluran bantuan seragam sekolah di Desa Lama dan Desa Lama Baru, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, kami memenuhi undangan Bupati Langkat, Syah Afandin, di rumah dinasnya.

Dalam pertemuan tersebut, kegiatan kemanusiaan yang kami lakukan rupanya mendapat perhatian pemerintah daerah. Bupati Langkat menyampaikan apresiasi dan menyatakan kesiapan membantu jika tim kami menghadapi kendala di lapangan. Pembicaraan berkembang lebih luas, menyentuh potensi kerja sama di sektor pertanian, khususnya pengembangan tanaman tembakau. Bupati Langkat bahkan menyatakan ketertarikannya mempelajari pola budidaya tembakau Madura sebagai salah satu daerah penghasil tembakau nasional.

Baca Juga:  Sambut HUT ke-14, Kabar Madura Usung Tema "Tangguh Bertumbuh" dengan Menggelar Jalan Sehat hingga Beragam Kegiatan 

Kembali ke posko WMI di Aceh Tamiang, briefing lanjutan memutuskan tim kedua berangkat lebih dulu ke Kampung Durian. Tim pertama baru siap menyusul sekitar pukul 12.00 WIB. Perjalanan sejauh 73 kilometer yang semula diperkirakan hanya memakan waktu dua jam, ternyata berubah menjadi hampir enam jam.

Seorang relawan WMI menjadi penunjuk jalan kami. Tantangan mulai terasa saat melintasi Desa Babu. Di sana, kendaraan harus berjalan sangat pelan karena kondisi jembatan yang nyaris putus. Hujan deras yang turun kemudian membuat jalanan licin dan semakin sulit dilalui. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti sejenak untuk menyalurkan bantuan peralatan masjid di wilayah Tamiang Hulu, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Desa Pangidam, kami belum bisa langsung menuju Dusun Satu, lokasi utama penyaluran. Mobil harus berhenti di Dusun Sukamaju yang berada di kawasan perbukitan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan sepeda motor milik warga setempat. Hujan kembali turun, membasahi tubuh dan pakaian kami. Dengan kondisi basah kuyup, kami akhirnya tiba di Dusun Satu menjelang waktu Magrib.

Dusun ini benar-benar terisolasi. Sulit dijangkau dan nyaris luput dari pantauan. Dari total 27 kepala keluarga atau sekitar 97 jiwa, wilayah ini baru terdeteksi sebagai daerah terdampak lima hari setelah banjir bandang. Selama itu pula warga harus bertahan sendiri, berjuang mencari bantuan.

Sebagian besar rumah warga ambruk diterjang banjir. Saat kami tiba, sudah ada relawan dari Persis Peduli yang siaga di lokasi, fokus pada rehabilitasi rumah-rumah yang roboh. Kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus banjir dimanfaatkan warga untuk membangun kembali rumah, bahkan dijadikan perahu sederhana.

Di dusun ini, kami secara simbolis menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta melalui Persis Peduli untuk pembelian peralatan tukang. Kami juga menyalurkan bantuan peralatan masjid berupa toa, ampli, dan speaker. Beberapa tenda darurat turut kami dirikan bagi warga yang sudah kehilangan tempat tinggal.

Fokus utama kami adalah mempercepat pembangunan hunian sementara. Masih banyak warga yang bertahan di tenda darurat atau menumpang di rumah tetangga yang selamat dari bencana.

Kami bermalam di Dusun Satu malam itu. Keesokan harinya, Minggu, 18 Januari 2026, kami kembali ke posko WMI. Di sana, tim pertama dan kedua akhirnya kembali bergabung untuk melanjutkan kegiatan di Kampung Durian, Kecamatan Kuala Simpang. Bersama relawan, kami menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak pengungsi.

Baca Juga:  Menagih Kepastian, Korban Penipuan Bertahan hingga Larut Malam di Pegadaian Syariah Pamekasan

Menurut catatan Azif Mawardi Zein, lokasi pengungsian di Kampung Durian dihuni sekitar 1.000 kepala keluarga. Mereka tinggal di tenda-tenda darurat di area seluas kurang lebih dua kali lapangan sepak bola. Di lokasi ini terdapat lebih dari 700 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), belum termasuk siswa SD dan TK, yang harus tetap melanjutkan pendidikan. Trauma healing dilakukan setiap hari.

WMI memfasilitasi tiga sekolah darurat. Siswa SD dan MI digabung, dengan sistem bergilir per kelas. Kondisi pengungsian yang sudah berlangsung lebih dari sebulan membuat risiko penyakit menular meningkat, terutama karena keterbatasan air bersih. Upaya pengeboran sempat menemui kendala, setiap pengeboran hingga kedalaman 20 meter justru mengeluarkan minyak, bukan air. Setelah berpindah-pindah lokasi pengeboran, baru pada Senin, 19 Januari 2026, air bersih akhirnya berhasil ditemukan.

Penanganan pemulihan diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu singkat. Jarak antarwilayah bisa mencapai 15 hingga 30 kilometer, dengan akses hutan dan jalan rawan longsor. Banyak desa terdampak berada jauh dari hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah, bahkan bisa ditempuh hingga 3–4 jam perjalanan.

Selama Minggu dan Senin, kegiatan kami tidak hanya trauma healing, tetapi juga penyaluran berbagai peralatan: seragam sekolah, lampu tenaga surya, alat pertukangan, perlengkapan dapur, peralatan masjid dan musala, paket ibadah, kitab-kitab, hingga Al-Qur’an. Bahkan, kami harus memesan Al-Qur’an hingga ke Jakarta dengan total biaya sekitar Rp35 juta termasuk ongkos kirim.

Senin, 19 Januari 2026, setelah berkeliling ke beberapa desa terdampak, saya harus beristirahat di posko. Sehari sebelumnya saya sempat terjatuh dari bak pikap dobel kabin akibat penutup kap belakang yang putus. Sore harinya, saya menghadiri undangan Kodim 0104 Aceh Timur untuk membahas rencana pembangunan jembatan darurat di sejumlah titik yang jembatannya putus akibat banjir.

Survei lapangan dijadwalkan keesokan harinya. Selain itu, pada Selasa, 20 Januari 2026, agenda lanjutan sudah menanti: penyerahan lima paket lampu panel surya di Desa Tanjung Glumpang, serta penyaluran bantuan toa, amplifier, mikrofon, dan peralatan lainnya ke beberapa desa.

Perjalanan ini masih panjang dan berliku. Catatan belum selesai. Satu hal yang pasti: jangan pernah menjadi relawan jika niatnya sekadar plesiran. Di sini, Anda akan benar-benar belajar apa arti kata melumpur.

Bersambung ke Seri 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *