KABAR MADURA | Kenaikan pagu pupuk subsidi di Sampang pada tahun anggaran 2026 belum sepenuhnya dirasakan petani di lapangan. Meski pemerintah mencatat lonjakan kuota ribuan ton, keluhan kelangkaan pupuk masih terjadi di sejumlah kecamatan, terutama menjelang musim tanam.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang mencatat peningkatan signifikan alokasi pupuk subsidi. Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Hortikultura Disperta KP Sampang, Nurdin, menyebut kenaikan tersebut menyasar tiga jenis pupuk utama.
“Kenaikan ini mencakup pupuk urea, NPK, dan organik untuk memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Data Disperta KP menunjukkan, pupuk urea naik dari 22.956 ton (2025) menjadi 26.320 ton (2026). Pupuk NPK meningkat dari 20.108 ton menjadi 22.047 ton, sementara pupuk organik melonjak dari 3.339 ton menjadi 5.077 ton.
Namun realitas di lapangan berbeda. Samsuri, petani padi asal Kecamatan Kedungdung, mengaku masih kesulitan memperoleh pupuk subsidi sesuai kebutuhan.
“Di data katanya pupuk naik, tapi di kios sering kosong. Kalaupun ada, jumlahnya dibatasi. Akhirnya kami terpaksa beli pupuk non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Herman, petani padi di Kecamatan Jrengik. Menurutnya, keterlambatan pupuk sangat berpengaruh terhadap hasil panen.
“Kalau pupuk telat, tanaman tidak maksimal. Kami petani kecil sangat bergantung pada pupuk subsidi,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Nurdin menjelaskan bahwa kelangkaan pupuk tidak selalu disebabkan minimnya kuota, melainkan persoalan distribusi dan administrasi. Salah satunya terkait data petani penerima yang harus terdaftar dalam sistem elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK).
“Petani yang belum masuk e-RDKK memang tidak bisa dilayani. Kami minta petani aktif memastikan data mereka melalui kelompok tani dan penyuluh,” jelasnya.
Nurdin berharap, dengan peningkatan kuota dan pembenahan data penerima, persoalan kelangkaan pupuk dapat diminimalisasi sehingga produktivitas pertanian di Bumi Bahari bisa meningkat secara berkelanjutan. (yan/waw)





