Barokah, Disiplin Batin, dan Jejak Kebiasaan: Membaca Etika Pesantren Madura

Berita31 views

KABAR MADURA | Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam KH Achmad Mulis mengungkapkan, dalam tradisi pesantren Madura, barokah bukan sekadar istilah religius yang dilafalkan dalam doa, melainkan sebuah horizon makna yang mengikat cara berpikir, bertindak, dan merasakan kehidupan. Barokah dipahami sebagai kualitas kebermaknaan yang melampaui ukuran material, ia hadir dalam ketenangan batin, dalam kemudahan menjalani hidup, dan dalam keberlanjutan kebaikan yang sering kali tidak kasatmata. Dalam dunia pesantren, barokah tidak jatuh dari langit sebagai hadiah instan, tetapi tumbuh dari kedisiplinan moral yang halus, dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan kesadaran yang terus-menerus.

Ungkapan Madura “mon e pondok ngeco’ jerum, din depa’ ka romanah ngeco’ jeren” (kalau di pondok mencuri jarum, maka ketika pulang akan mencuri kuda) dan “mon e pondok ta’ awirid, din mole ka romanah tak asholat” (ketika di pondok tidak berdzikir, maka ketika sampai di rumah tidak shalat), kata Kiai Muhlis, merupakan kristalisasi kebijaksanaan lokal yang menyimpan kedalaman sosiologis. Kedua ungkapan ini tidak sekadar peringatan normatif, tetapi refleksi atas bagaimana kebiasaan kecil membentuk arah hidup seseorang, ia menegaskan bahwa kehidupan moral bukan ditentukan oleh peristiwa besar, melainkan oleh akumulasi tindakan kecil yang dilakukan secara berulang.

“Pesantren adalah ruang pembentukan habitus, meminjam istilah Pierre Bourdieu, yakni struktur disposisi yang tertanam dalam diri individu dan membimbing tindakan mereka secara tidak sadar,” kata Ketua Senat UIN Madura itu.

Dalam ruang tersebut, ujarnya, santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga menyerap pola hidup, yakni bagaimana menghormati guru, bagaimana mengatur waktu, bagaimana menjaga lisan, dan bagaimana membangun relasi dengan Tuhan-nya. Ungkapan tentang “jerum (jarum) dan jeren (kuda)” serta “zikir dan salat” menunjukkan bahwa pesantren memahami betul bahwa habitus tidak dibentuk melalui instruksi besar, tetapi melalui pembiasaan kecil yang konsisten.

Dijelaskan, ketika seorang santri terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil, seperti “ngeco’ jerum (mencuri jarum)”, maka pelanggaran itu tidak berhenti sebagai tindakan sesaat. Ia perlahan menjadi bagian dari struktur kepribadian, membentuk cara pandang terhadap benar dan salah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar, sebagaimana diilustrasikan dengan “ngeco’ jeren (mencuri kuda)”. Demikian pula, ketika seorang santri mengabaikan praktik dzikir sebagai latihan kesadaran spiritual, maka yang tergerus bukan hanya ritual itu sendiri, tetapi juga sensitivitas batin yang menjadi dasar dari ibadah yang lebih besar seperti shalat.

“Kedua ungkapan tersebut menggambarkan mekanisme pembentukan kebiasaan (habit formation) dan internalisasi nilai. Perilaku manusia tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses pengulangan yang membentuk jalur-jalur mental tertentu. Ketika seseorang terbiasa mengabaikan hal kecil, maka otaknya belajar untuk menormalisasi pengabaian tersebut. Lama-kelamaan, standar moral menjadi bergeser, dan apa yang dahulu dianggap salah menjadi terasa biasa. Sebaliknya, ketika seseorang melatih dirinya untuk konsisten dalam hal-hal kecil, seperti dzikir, maka ia sedang membangun fondasi psikologis yang kuat untuk menjaga praktik-praktik yang lebih besar,” kata Kiai Muhlis.

Dalam konteks ini, tambahnya, barokah dapat dipahami sebagai hasil dari integrasi antara dimensi sosial dan psikologis, ia muncul ketika habitus yang terbentuk selaras dengan nilai-nilai yang diyakini, dan ketika kebiasaan yang dilakukan secara lahiriah didukung oleh kesadaran batin yang mendalam. Barokah bukan sekadar konsekuensi dari tindakan, tetapi dari kualitas kesadaran yang menyertai tindakan tersebut, ia adalah “resonansi moral” yang muncul ketika ada keselarasan antara apa yang dilakukan, apa yang diyakini, dan apa yang dirasakan.

Menariknya, barokah dalam tradisi pesantren Madura juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang tidak represif, ia tidak mengandalkan hukuman formal semata, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki implikasi yang lebih luas, baik secara sosial maupun spiritual. Ketika seorang santri percaya bahwa pelanggaran kecil dapat menghilangkan barokah, maka ia akan lebih berhati-hati, bukan karena takut pada sanksi eksternal, tetapi karena kesadaran internal. Dalam hal ini, barokah menjadi semacam “pengawas batin” yang bekerja secara halus tetapi efektif.

Baca Juga:  Kebersamaan Hangat Warnai Halalbihalal Keluarga Besar Mudhary di UNIBA Madura

Namun dalam konteks masyarakat modern yang cenderung pragmatis, konsep barokah sering kali sulit dipahami. Dunia hari ini lebih menghargai hasil yang cepat dan terlihat, sementara barokah bekerja dalam logika yang berbeda, ia tidak selalu tampak, tidak selalu instan, dan tidak selalu dapat diukur. Akibatnya, disiplin terhadap hal-hal kecil sering kali dianggap tidak penting, karena tidak memberikan manfaat langsung. Di sinilah pesan dari ungkapan-ungkapan Madura tersebut menjadi relevan, bahwa apa yang kecil hari ini dapat menentukan apa yang besar di masa depan.

“Kedua ungkapan tersebut juga mengandung pesan tentang kontinuitas antara ruang pesantren dan kehidupan di luar pesantren. Apa yang dilakukan di pondok bukanlah sesuatu yang terisolasi, tetapi akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari setelah keluar dari lingkungan tersebut. Pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi laboratorium kehidupan di mana kebiasaan dibentuk dan diuji. Jika di dalam ruang yang terkontrol saja seseorang tidak mampu menjaga disiplin, maka di luar ruang tersebut, di mana kontrol lebih longgar, pelanggaran akan lebih mudah terjadi,” urainya.

Makna barokah dalam tradisi pesantren Madura mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna dibangun dari hal-hal kecil yang dijaga dengan kesadaran besar, ia mengingatkan bahwa moralitas bukanlah sesuatu yang muncul dalam momen-momen spektakuler, tetapi sesuatu yang tumbuh dalam rutinitas sehari-hari. Ungkapan tentang jerum (jarum), jeren (kuda), dzikir, dan shalat menjadi metafora yang kuat bahwa arah hidup seseorang ditentukan oleh kebiasaan yang ia pelihara.

“Di tengah dunia yang sering kali tergesa-gesa dan melupakan detail, pesan ini mengajak kita untuk kembali pada dasar, yakni menjaga integritas dalam hal-hal kecil, merawat kesadaran dalam setiap tindakan, dan memahami bahwa barokah bukanlah sesuatu yang dicari di luar, tetapi sesuatu yang ditumbuhkan dari dalam. Karena pada akhirnya, apa yang kita ulangi setiap hari akan menjadi siapa kita di masa depan, dan di situlah barokah menemukan maknanya yang paling dalam,” tukas Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kunig (PKMKK) Pamekasan itu. (rul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *