Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura.
Sudah dua hari. Tapi kegembiraan itu masih terasa sampai sekarang. Sabtu kemarin, Madura United menang. Kita semua sudah tahu. Dua gol tanpa balas ke gawang PSM Makassar.
Air mata Madura tumpah. Tapi itu air mata bahagia. Air mata kegembiraan. Bukan air mata kesedihan.
Itu bukan sekadar menang. Itu soal nyawa. Nyawa di kasta tertinggi persepakbolaan kita: Indonesia Super League (ISL).
Di saat yang sama, ada yang juga mengeluarkan air mata. Air mata duka. Air mata getir. Persis Solo. Solo harus rela turun kasta ke Liga 2. Menangis.
Begitulah sepak bola dengan caranya tanpa campur tangan pihak luar. Kejam. Tapi adil.
Semua khawatir. Isu itu menyeruak. Solo akan melakukan segala cara agar Madura yang terdegradasi. Tapi Madura United menolak tunduk oleh keadaan. Laskar Sape Kerrab memilih berontak. Melawan. Memilih untuk tetap odik.
Orang Madura memang unik. Tidak pernah mau menunggu durian runtuh. Enggan hanya berpangku tangan menunggu nasib. Orang Madura selalu percaya pada dua hal: keringat sendiri dan rida Allah.
Di atas kertas, secara hitung-hitungan probabilitas statistik, peluang Madura bertahan sempat sangat tipis. Tapi sepak bola bukan sekadar angka di atas meja. Di lapangan, buktinya nyata. Pemain tampil keras. Ngotot. Tidak mau kalah. Harga diri dipertaruhkan.
Namun, sekeras apa pun manusia berlari, di ujung peluit panjang selalu ada pojur yang turun dari langit. Kerja keras dan doa yang dijawab oleh Allah. Hasilnya: Madura selamat dari degradasi.
Tapi, jangan menutup mata. Jujur saja, musim ini Madura United bikin jantungan. Bermain layaknya rollercoaster. Naik turun tidak karuan. Tanpa rem.
Kadang tampil luar biasa beringas. Di hari lain, tiba-tiba loyo tidak bertenaga. Lini belakang terlalu sering panik sendiri. Lini tengah bingung mengalirkan bola. Lini depan lupa cara mencetak gol.
Manajemen harus sadar penuh. Evaluasi mutlak. Jangan sampai euforia lolos dari maut ini menutupi borok kelemahan tim.
Musim depan tidak boleh begini lagi. Harus cari pemain yang memiliki kualitas. Kalau boleh subjektif, hanya Junior Brandao, Fransiscus Alesandro, dan Jordi Wehrmann yang masih layak dipertimbangkan musim depan. Madura butuh petarung sejati.
Mengapa komposisi pemain ini sangat penting? Bukankah ini cuma permainan bola? Ada menang, seri, dan kalah?
Bukan. Dalam skala lebih luas, ini urusan ekonomi masyarakat riil.
Coba datang dan lihat setiap kali ada pertandingan di Madura. Bangkalan atau Pamekasan. Roda ekonomi lokal berputar. Berapa bungkus nasi dan air dalam kemasan yang bisa terjual? Berapa banyak tukang parkir yang bisa tersenyum membawa pulang uang ke rumahnya? Warung-warung kopi penuh pembeli sebelum masuk stadion.
Sepak bola pada kenyataannya, ikut menghidupi masyarakat bawah. Termasuk di Madura.
Lebih dari itu, Madura United adalah harga diri. Ikon kultural yang sangat kuat.
Ini satu-satunya wadah yang bisa menyatukan empat kabupaten secara alami. Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Semua lebur jadi satu. United.
Setiap kali tim ini bertanding dan disiarkan di layar kaca, perantau Madura di mana pun merasa pulang. Ada kerinduan yang terobati. Ada kebanggaan luar biasa bahwa taretan dhibik sedang bertarung mempertahankan martabat pulau garam di tingkat nasional. Madura United adalah etalase promosi daerah yang luar biasa mahal harganya.
Kalau sampai degradasi, etalase kebanggaan itu turut runtuh. Sirna.
Syukuri keberhasilan ini. Mator sakalangkong untuk pelatih dan semua pemain yang menolak menyerah sebelum peluit akhir ditiup. Khususnya Presiden Klub Achsanul Qosasi yang berjuang sekuat tenaga dan pikiran mengharumkan nama Madura.
Tahun depan, bangunlah tim yang jauh lebih serius. Jangan lagi main-main dengan nasib dan emosi penonton.
Hari ini bolehlah kita rayakan napas baru yang panjang. Besok, kita sambut Iduladha dengan dada membusung. Menatap musim depan dengan kepala tegak. (*)

