Emas Hijau

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jatim, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura

Madura dan tembakau. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seperti laut dan garamnya.

Ada gagasan besar yang sedang digodhog. Rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Pulau Garam.

Mimpi siang bolong? Saya rasa tidak. Justru ini adalah sebuah keniscayaan.

Berpuluh tahun petani tembakau Madura lebih banyak gigit jari. Mereka bekerja keras. Menahan terik matahari di tanah yang kering. Tapi yang menikmati untung besar adalah pabrik-pabrik besar di luar Madura.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

KEK harus masuk. Secara teori ekonomi institusional, KEK adalah instrumen pengubah struktur kelas. Ia bukan sekadar kumpulan pabrik. Ia adalah hilirisasi. Selama ini, petani Madura terjebak di dasar rantai pasok (supply chain). Menjual bahan mentah. Murah.

Buku “Ekonomi Tembakau Indonesia” (Rachmat dkk, 2019) dengan gamblang menyebut bahwa tanpa intervensi industri di sektor hulu, petani akan terus terpinggirkan. KEK akan menyulap daun-daun itu menjadi produk bernilai tambah. Cerutu kualitas ekspor. Hingga ekstrak nikotin untuk kebutuhan farmasi. Uangnya? Tentu berputar dan tetap di Madura.

Baca Juga:  Warga dan Pengecer Disebut Biang Keladi Kelangkaan Gas LPG Bersubsidi

Dampak positif lainnya ternyata bisa lebih meraksasa. KEK tidak melulu soal cerutu atau rokok apalagi rokok ilegal tanpa cukai. Di dalam KEK harus didirikan Pusat Studi Tembakau Nusantara.

Untuk apa? Riset!

Jurnal Inovasi Agribisnis (Widiyanto, 2023) mencatat tren global pergeseran fungsi tembakau. Lewat pusat studi ini, daun tembakau bisa diekstrak menjadi biopestisida organik, bahan baku obat-obatan farmasi, hingga protein untuk industri kosmetik. Ekosistem baru ini otomatis membuka keran lapangan kerja yang masif. Anak muda Madura tidak lagi sekadar menjadi buruh tani. Mereka akan naik kelas menjadi peneliti, laboran, agronom, dan marketer global.

Masyarakat Madura itu unik. Komunal, religius, dan punya harga diri tinggi. Di ladang-ladang tembakau itu, ada hierarki sosial yang sudah mapan. Hubungan patron-klien antara petani dan tengkulak sangatlah kuat. Mengakar.

Jurnal “Dinamika Sosial Ekonomi Petani Tembakau” oleh Suryani (2021) mengingatkan satu hal krusial. Menyingkirkan tengkulak secara radikal demi efisiensi korporasi KEK hanya akan memicu resistensi kultural. KEK harus pandai merangkul semua kalangan. Mengedukasi dan menaikkan kelas mereka menjadi agen agregator modern. Bukan memusuhi mereka.

Baca Juga:  Perayaan Paskah di Bangkalan Dijaga Ketat, 182 Personel Kepolisian Diterjunkan

Tembakau di Madura itu bukan sekadar komoditas pertanian. Ia adalah ikon. Sebuah artefak komunikasi visual. Dalam kajian semiotika budaya (Hasanah, 2022), tembakau bagi orang Madura adalah bahasa nonverbal tentang kejantanan, status sosial, dan kemandirian. “Emas Hijau”. Ini adalah cara orang Madura berbicara kepada dunia bahwa mereka tangguh.

KEK tidak boleh sekadar jadi kawasan beton yang dingin. Ia harus dibangun sebagai monumen yang mengapitalisasi nilai historis tersebut. Angkat brand Tembakau Madura ke level global. Jadikan seperti Havana di Kuba. Ketika dunia bicara soal cerutu atau tembakau eksotis, ingatan mereka harus langsung tertuju ke Madura.

Pemerintah sudah membangun Jembatan Suramadu untuk menyeberangi selat. Tapi jembatan fisik saja ternyata tidak cukup. Madura butuh jembatan kesejahteraan.

KEK Tembakau adalah jembatan ekonomi itu. Mampukah segera berdiri? Harusnya mampu. Asal urusan birokrasinya tidak lebih ngebul dari asap rokoknya. (*)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *