Oleh:Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura
Minggu kemarin, Kota Pamekasan lebih riuh dari biasanya. Ribuan kaki melangkah serempak. Tangan mengayun. Menghirup udara pagi yang segar.
Mereka sedang ikut jalan sehat. Merayakan ulang tahun ke-14 Kabar Madura. 14 Tahun tentu bukan usia yang pendek untuk sebuah media massa lokal. Untuk bisa bertahan di tengah gempuran zaman, media harus tangguh. Harus berani menyuarakan apa yang dirasakan rakyat.
Di tengah kemeriahan jalan sehat itu, ada satu pertanyaan menggelitik. Apakah jalan-jalan di Madura benar-benar sudah “sehat” Faktanya tidak selalu begitu.
Banyak taretan di pelosok Madura yang tiap hari justru dipaksa merasakan “jalan sakit”. Jalannya hancur lebur. Berlubang dalam. Penuh debu saat kemarau, dan berubah jadi kubangan lumpur saat hujan turun. Ancor.
Apa biangnya? Tambang ilegal. Galian C bodong.
Polres Pamekasan terus menangani kasus tambang ilegal ini. Warga sudah terlampau sering menjerit. Mengeluhkan jalan yang rusak parah dan lingkungan yang hancur.
Jeritan itu sangat nyata. Truk-truk besar “monster jalanan” mondar-mandir setiap hari. Tanpa ampun. Mengangkut batu. Mengangkut pasir. Lebihi tonase.
Meninggalkan debu pekat yang masuk ke paru-paru anak-anak kita. Meninggalkan aspal yang terkelupas tak bersisa.
Kok bisa terus terjadi? Apa penyebabnya?
Penyebabnya sangat klasik: pesse. Ada tumpukan cuan besar di balik debu itu.
Kebutuhan material bangunan di Madura memang sedang tinggi-tingginya. Pembangunan jalan, gedung, rumah, semuanya butuh material.
Masalahnya, cara menggalinya yang membabi buta. Serampangan.
Tanpa izin resmi. Tanpa kajian amdal. Tanpa aturan reklamasi. Dan tentu saja, tanpa peduli lingkungan.
Lebih parah lagi, sering kali ada dugaan “mata yang sengaja tertutup”. Pembiaran birokrasi. Atau, jangan-jangan ada beking orang kuat? Entahlah. Hukum pasar gelap seringnya begitu.
Mari kita lihat dampaknya. Secara sosial, warga dibuat berkonflik. Saling curiga. Kadang warga yang marah memblokir jalan, berhadapan dengan sopir truk yang merasa hanya mencari nafkah.
Dampak ekonomi? Pihak tambang selalu beralasan membuka lapangan kerja.
Betul. Memang ada warga sekitar yang akhirnya jadi kuli panggul. Dapat upah harian.
Tapi, coba hitung pakai logika sederhana. Berapa miliar uang negara yang harus dikuras tiap tahun hanya untuk menambal jalan yang rusak dilindas truk tambang? Berapa biaya pengobatan warga yang terkena ISPA?
Keuntungan miliaran rupiah lari mulus ke kantong bos tambang. Sementara kerugiannya ditanggung rakyat kecil dan APBD. Jelas tidak adil.
Lalu, dampak lingkungannya? Ini yang paling bikin menangis. Madura pelan-pelan jadi bopeng. Bukit-bukit hijau dikeruk paksa hingga gundul.
Kalau musim hujan tiba, ancaman tanah longsor dan banjir bandang di depan mata. Kalau musim kemarau panjang, sumber mata air mati. Bumi diperkosa demi syahwat sesaat.
Lantas, bagaimana mengatasinya?
Harus ada ketegasan radikal. Tidak ada cara lain.
Polisi sudah bergerak. Itu langkah bagus. Kita dukung penuh. Mator sakalangkong untuk aparat hukum.
Tapi prosesnya jangan cuma tajam ke bawah. Jangan hanya berhenti menangkap operator alat berat atau sopir truk.
Kejar pemodal besarnya! Tutup permanen lubang tambangnya. Sita alat beratnya. Seret ke meja hijau.
Pemerintah daerah juga pantang diam saja.
Urusan izin tambang memang ruwet. Sering ditarik ke provinsi atau pusat. Daerah sering berdalih tidak punya wewenang.
Tapi ingat, yang jalannya hancur itu daerah Madura. Yang rakyatnya batuk-batuk itu warga Madura. Bupati harus berani teriak.
Bantu fasilitasi izin bagi tambang rakyat yang memang secara geologis layak operasi. Agar ada standar pengawasan lingkungan dan retribusi resmi.
Bagi yang ngotot menambang ilegal dan merusak alam? Sikat habis.
Acara jalan sehat HUT Kabar Madura hari ini sejatinya harus menjadi simbol perlawanan nurani.
Simbol bahwa masyarakat Madura berhak hidup sehat. Badannya sehat. Lingkungannya sehat. Perekonomiannya juga sehat.
Bukan masyarakat yang dipaksa menelan debu tiap hari akibat keserakahan segelintir orang.
Masyarakat Madura, jangan pernah lelah menyuarakan kebenaran.
Agar Madura kita tercinta ini tidak terus-terusan menjadi bumi yang berlubang! (*)
