Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur; Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura; Redaktur Kabar Madura.
Dulu, kalau masuk ke desa-desa di pelosok Madura, pemandangannya seragam: sepi.
Yang tersisa di kampung kebanyakan hanya orang tua dan anak-anak kecil yang berlarian di halaman rumah.
Ke mana para pemudanya? Ke mana bapak-bapaknya merantau. Pergi jauh melintasi lautan.
Madura memang keras. Sebagian tanahnya berkapur. Cuacanya terik. Bertani tak selalu menjanjikan kemakmuran. Merantau adalah jalan ninja. Sebuah keharusan sosiologis demi menyambung hidup.
Ada yang terbang ke Kalimantan. Masuk ke hutan-hutan. Menjadi buruh perkebunan kelapa sawit.
Tapi lebih banyak lagi yang menyeberang ke Malaysia. Menjadi kuli bangunan. Atau apa saja. Yang penting halal dan bisa mengirim ringgit tiap bulan ke kampung halaman.
Itu dulu. Bertahun-tahun lamanya keadaan begitu terus. Sampai-sampai menjadi semacam siklus hidup warga pulau garam itu. Lahir di Madura, besar sedikit, lalu pergi merantau.
Tapi coba datang ke Madura sekarang. Peta itu mulai berubah.
Arus kepulangan tidak lagi sekadar menunggu tradisi toron saat Lebaran. Banyak yang pulang kampung permanen. Dan, yang terpenting: tidak balik lagi ke tanah perantauan.
Ada apa di Madura? Mengapa ringgit tak lagi menggoda?
Rupanya ada magnet baru di sana. Magnet ekonomi yang daya tariknya luar biasa. Magnet itu bernama: industri rokok lokal.
Ya. Rokok lokal. Anda tidak salah baca. Ini bukan tentang pabrik-pabrik raksasa yang pusatnya di Kediri, Kudus, atau Surabaya. Ini murni pabrik-pabrik rokok berskala lokal. Milik orang Madura. Mempekerjakan warga setempat.
Jumlahnya ternyata bukan cuma satu atau dua. Ratusan. Tersebar merata di banyak desa di empat kabupaten di Madura.
Luar biasa. Kehadiran industri rokok lokal ini rupanya diam-diam telah menjadi motor penggerak utama kesejahteraan daerah. Mengubah lanskap sosial dan ekonomi warga setempat secara drastis.
Orang Madura kini mulai sadar. Tak perlu lagi jauh-jauh memeras keringat di negeri jiran. Buat apa bertaruh nyawa menyeberang laut kalau di tanah kelahiran sendiri pundi-pundi rezeki sudah terbuka lebar?
Mereka bisa bekerja di pabrik rokok lokal. Duduk melinting rokok. Atau memilah tembakau. Penghasilannya cukup.
Yang nilainya jauh lebih mahal dari uang: mereka bisa dekat dengan keluarga. Mengasuh anak sendiri. Dekat dengan tetangga. Tetap bisa hadir kalau ada tahlilan, selamatan, atau hajatan desa. Hidup jadi jauh lebih tenang.
Ini sungguh fenomena ekonomi yang patut dicatat. Di saat kota-kota besar sedang pusing tujuh keliling. Susah mencari kerja. Pemulihan ekonomi mandek. Banyak PHK di mana-mana. Di Madura justru sebaliknya.
Ratusan pabrik rokok lokal itu hadir menjelma menjadi jaring pengaman sosial yang mandiri. Sangat tangguh. Tidak cengeng. Dan sama sekali tidak merepotkan negara.
Bahkan, mereka malah rajin memberi kontribusi kepada negara.
Anda tentu tahu: pabrik rokok adalah sapi perah penerimaan negara. Lewat Cukai Hasil Tembakau (CHT). Ratusan triliun rupiah disetor ke kas negara dari kepulan asap tembakau ini. Termasuk dari rokok lokal Madura yang legal.
Tapi bagi masyarakat arus bawah, sumbangan terbesar pabrik rokok bukanlah uang cukai yang disetor ke pusat itu. Sumbangan terbesarnya adalah: meluasnya lapangan pekerjaan.
Industri ini menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Sangat padat karya. Perlahan tapi pasti, angka pengangguran ditekan. Angka kemiskinan di desa-desa dipangkas.
Ini sebenarnya tupoksi utama pemerintah. Menyediakan lapangan kerja. Mengentaskan kemiskinan. Tapi tugas berat itu, di Madura, telah diambil alih—sebagian besarnya—oleh keberanian para pengusaha rokok lokal. Mereka bertindak di saat yang lain sekadar berwacana.
Maka, pertanyaan besarnya kini: bagaimana nasib mereka ke depan?
Kita tahu, industri rokok itu ibarat gadis cantik yang sering dimusuhi. Regulasinya luar biasa ketat. Aturannya berlapis. Dari soal kesehatan, kawasan larangan, sampai tarif cukai yang grafiknya selalu minta naik tiap tahun.
Tentu, alasan kesehatan itu sangat valid. Tidak ada yang membantah. Tapi urusan perut rakyat dan berputarnya roda ekonomi daerah juga tak kalah pentingnya. Keduanya harus jalan beriringan.
Pabrik-pabrik rokok lokal di Madura ini butuh kepastian. Butuh dukungan regulasi yang adil dan berimbang. Jangan sampai aturan yang dirumuskan di gedung ber-AC di Jakarta, dengan kacamata elit ibukota, justru mencekik denyut nadi ekonomi di daerah.
Pemerintah harus jeli melihat realitas lapangan. Ratusan pabrik rokok lokal ini sudah terbukti nyata menjadi pahlawan ekonomi. Menjadi rem cakram yang sangat pakem bagi arus urbanisasi. Menahan kuat laju pelarian kelas pekerja ke luar negeri.
Kalau industri ini sampai layu, apalagi mati pelan-pelan akibat regulasi yang kelewat kaku, dampaknya ngeri.
Siapkah negara tiba-tiba menampung puluhan ribu pengangguran baru di Madura? Siapkah kita melihat orang Madura kembali berbondong-bondong naik kapal tongkang, mempertaruhkan nyawa mencari kerja ke Malaysia atau Singapura?
Saya kira tidak.
Biarkanlah ekonomi lokal itu terus menyala. Biarkan warga Madura merdeka dan sejahtera di tanahnya sendiri. Melinting tembakau. Menjemput rezeki. Tanpa harus pergi jauh meninggalkan keluarga. (*)
