Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura
1 Juni 2026 ini bukan hari biasa. Tanggal yang sarat makna. Bersamaan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.
Di tanggal yang penuh semangat kebangsaan itu, ada satu lilin literasi yang juga merayakan nyalanya.
Hari ulang tahun Kabar Madura.
Empat belas tahun. Usia yang sama sekali tidak main-main.
Untuk ukuran media lokal di era sekarang, bertahan sejauh itu adalah keajaiban. Atau, mungkin, sebuah keras kepala yang sangat indah.
Saya sering membayangkan dua sosok itu: Achsanul Qosasi dan Cholili Ilyas.
Empat belas tahun lalu, apa yang sebenarnya bergolak di kepala dan hati beliau-beliau ini?
Mendirikan media di Madura? Banyak orang mungkin saat itu mengerutkan dahi. Bukankah itu seperti menanam pohon di atas batu karang? Sulit. Kering. Penuh tantangan.
Tapi mereka tahu satu hal fundamental: tanah karang itu tetap butuh air. Dan air kehidupan itu bernama literasi. Membaca.
Karakter orang Madura itu sudah terbentuk oleh alam. Pekerja keras. Tangguh. Abhantal omba’ asapo’ angen. Berbantal ombak, berselimut angin. Lautan yang ganas saja berani ditaklukkan, apalagi kerasnya kehidupan daratan. Nyali mereka tidak perlu diragukan.
Tapi fisik yang tangguh, nyali yang besar, harus diimbangi dengan isi kepala. Otak yang cerdas. Masyarakat Madura harus penter. Harus cerdas. Harus kritis tapi terarah.
Tantangan zaman tidak bisa lagi hanya dilawan dengan otot. Harus dengan otak.
Itulah cita-cita besar di balik lahirnya Kabar Madura.
Bukan sekadar jualan berita untuk cari cuan. Bukan sekadar mengejar oplah yang kian hari kian berat.
Madura sedang membangun peradaban. Kami ingin memasifkan gerakan literasi membaca di pulau garam.
Membaca itu membuka mata batin. Tera’ Ta’ A-dhemar. Itulah media, terang tanpa cahaya, tapi menerangkan dengan ilmu. Dari yang awalnya gelap, menjadi tera’. Terang benderang.
Matahari boleh saja bersinar terik membakar kulit para pedagang di Bangkalan, petani garam di Sampang, petani tembakau di Pamekasan atau nelayan di Sumenep. Tapi tanpa kebiasaan membaca, pikiran bisa tetap gelap gulita.
Media yang sehat menjadi sangat krusial. Kita semua tahu, ekosistem informasi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Gempuran media sosial yang serba cepat, serba instan, sering kali sarat dengan informasi sesat dan dangkal. Jika tidak hati-hati, masyarakat mudah terombang-ambing hoaks. Tanpa asupan informasi yang sehat, pikiran publik bisa keracunan.
Publik butuh jangkar. Butuh pegangan yang menyajikan kedalaman makna, bukan sekadar sensasi. Kabar Madura mengambil peran penting itu. Menjadi oase literasi di tengah lautan disinformasi. Menghadirkan jurnalisme yang mendidik, mencerahkan, dan yang paling penting: waras.
Apakah misi ini mudah? Tentu tidak.
Mengajak orang membaca teks hari ini lebih sulit daripada mengajak orang berdebat di warung kopi. Orang lebih suka rebahan menonton video pendek. Lebih suka yang instan.
Lalu, bagaimana nasib cita-cita mencerdaskan taretan Madura itu ke depan? Jawabannya hanya satu: song-osong lombhung. Gotong royong. Bergerak bersama.
Api literasi itu harus terus dihidupkan. Tidak boleh padam hanya karena disapu pusaran digitalisasi.
Kabar Madura tidak boleh hanya puas menjadi saksi sejarah. Harus terus tangkas menjadi pembuat sejarah.
Tentu, wujudnya harus bertransformasi. Mengikuti zaman. Tapi ruhnya pantang berubah: mencerdaskan. Menjaga kualitas informasi tetap sehat. Sebuah bacaan yang mencerahkan adalah hak asasi publik yang tak boleh ditawar-tawar.
Usia 14 itu ibarat remaja yang sedang mekar-mekarnya.
Sedang kuat-kuatnya mencari bentuk terbaik untuk menatap masa depan.
Tantangannya bukan lagi sekadar memastikan lembaran cetak sampai di meja pembaca. Atau berita online muncul di layar ponsel anda. Tapi bagaimana membuat mata dan pikiran generasi muda Madura tetap tertuju pada literasi yang bergizi, entah itu di atas kertas maupun di layar gawai.
Kabar Madura harus bisa menjawab tantangan itu.
Harus bisa membuat masyarakat merasa rogi jika sehari saja terlewat tidak membaca.
Harus menanamkan satu prinsip baru: tidak membaca, berarti siap digilas zaman.
Selamat ulang tahun yang ke-14, Kabar Madura.
Kami semua bahagia dan bangga melihat media masih tegak berdiri.
Teruslah menyalakan obor itu. Teruslah membuat pikiran orang Madura terak meski ta’ a-dhemar.
Perjuangan literasi ini memang panjang. Menguras tenaga. Memeras keringat.
Tapi percayalah, jejak peradaban yang ditinggalkan akan abadi.
Mari terus membaca. Mari terus mencerdaskan.
Sebab Madura yang besar, hanya akan lahir dari Madura yang membaca. (*)

