Keberangkatan Mepet Puncak Haji, Kemenhaj Bangkalan Ingatkan Risiko Travel Ilegal

Berita26 views

KABAR MADURA | Masyarakat Bangkalan diminta lebih berhati-hati dalam memilih travel haji maupun umrah. Imbauan itu disampaikan Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Bangkalan menyusul maraknya dugaan penipuan perjalanan ibadah.

Kekhawatiran itu muncul setelah Nikmah, warga Desa Banyoneng Laok, Kecamatan Geger, menceritakan keberangkatan jemaah asal desanya yang disebut menggunakan layanan haji plus dengan jadwal yang dinilai cukup mepet menjelang puncak ibadah haji.

Menurut Nikmah, rombongan jemaah itu berangkat pada Minggu malam (24/5/2026). Namun, hingga waktu isya’, mereka masih berada di Bandara Juanda Surabaya dan dijadwalkan transit terlebih dahulu ke Jakarta.

“Pihak keluarga sempat ragu, tapi karena membayar uang muka dan tidak dapat diambil kembali, ya sudah,” ungkapnya, Selasa (26/5/2026).

Nikmah menambahkan, rombongan jemaah itu baru bertolak menuju Arab Saudi pada Senin pagi (25/5/2026). Namun, hingga saat ini, pihak keluarga belum mengetahui apakah jemaah itu sempat menunaikan rangkaian wajib haji di Padang Arafah.

“Baru berangkat Senin pagi, tapi sempat atau tidaknya melaksanakan kewajiban haji, saya kurang tahu. Tapi, visanya memang bukan visa haji,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kemenhaj Bangkalan Arif Rochman mengaku pihaknya belum dapat memastikan legalitas maupun prosedur keberangkatan jemaah itu karena pelaksanaan haji plus sepenuhnya ditangani pihak travel.

“Kalau memang haji plus ya memang ada. Hanya kalau keberangkatannya di tanggal segitu memang agak mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jadwal pemberangkatan terakhir jemaah haji reguler dari Indonesia berlangsung pada 21 hingga 22 Mei 2026. Sebab itu, keberangkatan setelah tanggal itu dinilai cukup berisiko apabila tidak ditangani secara profesional oleh travel resmi.

“Jemaah reguler itu pemberangkatan terakhir tanggal 21 sampai 22 Mei,” tambahnya.

Meski demikian, Arif menyebut, jemaah haji plus memang masih memungkinkan berangkat mendekati puncak haji karena menggunakan skema penerbangan dan layanan berbeda dibanding haji reguler. Namun, konsekuensinya jemaah harus langsung mengikuti rangkaian inti ibadah setibanya di Arab Saudi tanpa memiliki waktu istirahat yang cukup.

“Kalau berangkat di tanggal segitu memang masih mungkin. Tapi sangat mepet. Sampai sana kemungkinan langsung mengikuti puncak haji di Arafah,” jelasnya.

Baca Juga:  Jasad Perempuan Mengapung di Kamal Bangkalan, Polisi Telusuri Identitas dan Penyebab Kematian

Menurutnya, hal terpenting yang wajib dipastikan masyarakat sebelum berangkat adalah status visa yang digunakan. Sebab, banyak kasus penipuan perjalanan haji dan umrah bermula dari penggunaan visa yang tidak sesuai peruntukan.

“Kalau ikut travel haji plus, pastikan dulu visa hajinya sudah keluar atau belum. Kalau yang keluar memang visa haji, berarti aman. Tapi kalau bukan visa haji, itu yang harus diwaspadai,” tegasnya.

Arif juga meminta masyarakat tidak mudah tergiur tawaran keberangkatan cepat maupun biaya murah tanpa memastikan legalitas travel penyelenggara. Terlebih, praktik penipuan berkedok haji dan umrah kerap terjadi menjelang musim keberangkatan.

Dia menekankan pentingnya memastikan travel yang dipilih memiliki izin resmi dan terdaftar di Kemenhaj agar jemaah tidak menjadi korban penipuan.

“Jangan mudah percaya begitu saja. Pastikan travelnya resmi dan visanya benar-benar visa haji,” pungkasnya. (fik/zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *