KABAR MADURA | Sebanyak 84 siswa harus dilarikan ke Puskesmas Kokop, Bangkalan, Kamis (4/6/2026), karena diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Puluhan korban itu diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bangkalan Kokop Dupok 1 dari Yayasan Langkah Bersama Kita (LBK).
Gejala mual dan pusing dialami siswa mulai dari jenjang PAUD hingga SLTA. Tidak hanya siswa pendidikan formal, sejumlah santri juga masuk dalam daftar penerima dampak kejadian tersebut.
Kepala Satuan Tugas (Satgas) MBG Bangkalan Bambang Budi Mustika mengatakan, awalnya jumlah korban yang terdata hanya 21 orang dari SMAN 1 Kokop. Namun hingga sore hari, jumlah siswa yang datang ke puskesmas dengan keluhan serupa terus bertambah.
Berdasarkan data yang dihimpun, korban terdiri dari 28 siswa SDN Bandasoleh 1, 4 siswa MTs Al Hamidiyah, 3 siswa SMPN 1 Kokop, 1 siswa SDN Dupok 4, 1 siswa SDN Batokorogan, 23 santri Ponpes Al Husaini Batorokorogan, 1 siswa MTs Al Itihad, 1 siswa MTs Nurul Huda, serta 1 wali murid.
Lebih lanjut, Bambang mengaku telah turun langsung ke lapangan. Dari informasi yang diterimanya, tidak ditemukan kejanggalan pada menu yang disajikan kepada para siswa.
“Saya tanya ke siswa, rata-rata jawabannya makanan MBG memiliki rasa yang enak, tidak ada bau,” ujar Bambang, Jumat (5/6/2026).
Dari total 84 orang yang dibawa ke puskesmas, Bambang menyebut, masih ada 12 siswa yang harus menjalani perawatan inap.
Menurut pengakuan para siswa, kata Bambang, gejala mulai dirasakan setelah mengonsumsi menu MBG berupa nasi, sate, acar, tempe goreng, dan semangka.
“Menu MBG yang disajikan itu nasi, sate, acar tempe goreng dan semangka,” ungkapnya.
Selain para siswa, seorang wali siswa juga dilaporkan mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi menu MBG yang dibawa pulang oleh anaknya.
“Satu warga juga mengalami muntah, bahkan hingga 5 kali mungkin, karena dimakan agak lama setelah penyajian,” tambahnya.
Sementara itu, pihak terkait saat ini terus melakukan penanganan dan langkah cepat untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. Sampel makanan yang telah dikonsumsi para siswa juga telah diambil untuk dilakukan pengujian laboratorium.
“Saat ini kami bertindak cepat melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kokop. Kami juga mengambil sampel untuk di uji lab di Surabaya, hingga kini belum dapat dipastikan penyebabnya,” pungkasnya. (fik/zul)





