KABAR MADURA | Penguatan sektor ekonomi dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan gagasan Madura Bersatu sekaligus mendukung perjuangan pembentukan Madura Provinsi. Hal tersebut ditegaskan Presiden KUP Pojur, Prof. Achsanul Qosasi.
Tokoh Madura yang akrab disapa Prof. AQ itu menilai, salah satu langkah strategis yang perlu terus didorong adalah pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Madura. Menurutnya, komoditas tembakau memiliki potensi yang sangat besar. Namun, hingga kini potensi itu belum didukung sistem tata niaga yang mampu memberikan perlindungan dan keadilan bagi petani maupun pelaku usaha lokal.
“Selama ini harga tembakau ditentukan pembeli. Tidak ada aturan yang benar-benar mengikat untuk melindungi masyarakat Madura,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Prof. AQ mengungkapkan, berbagai kajian terkait pembentukan KEK Tembakau sebenarnya telah dilakukan. Kajian itu mencakup pemetaan potensi hingga kesiapan ekosistem ekonomi yang ada di Madura. Sebab itu, dirinya optimistis KEK Tembakau dapat menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, asalkan ditopang regulasi dan infrastruktur yang memadai.
Kata Prof. AQ, Madura sejatinya memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari tembakau hingga minyak dan gas bumi (migas). Sayangnya, besarnya potensi itu belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, dia juga menyoroti beratnya perjuangan untuk mewujudkan Madura Provinsi. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah adanya stigma negatif terhadap masyarakat Madura yang berdampak pada rendahnya minat investor untuk menanamkan modal di wilayah tersebut.
Oleh sebab itu, Prof. AQ menyebut, penguatan ekonomi harus menjadi perekat yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat Madura sekaligus memperkuat posisi daerah dalam berbagai aspek pembangunan.
“Visi membuat Madura Bersatu sudah kelihatan melalui Madura United, tapi tidak sepenuhnya merapat. Masih butuh lem perekat lain untuk merekatkan sepenuhnya, yaitu melalui perekat ekonomi,” tutupnya. (nur/zul)





