Oleh: Syarifuddin*
KABAR MADURA | PT Kangean Energy Indonesia telah memulai survei seismik di beberapa desa di Kepulauan Kangean. Survei seismik menjadi bagian dari proses rencana eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi yang sebentar lagi akan dimulai di perairan Kangean, Kabupaten Sumenep.
Di tengah polemik tambang di beberapa daerah di Indonesia, kasus ini menjadi alarm berbahaya bagi masyarakat Kangean secara umum. Ruang mata pencaharian masyarakat kian terancam. Terlebih, mereka yang kebanyakan menggantungkan hidupnya pada hasil tani dan laut.
Pemerintah yang seringkali memberi janji manis pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur pada masyarakat, sepatutnya menghentikan proyek ini, bukan justru memberi lampu hijau terhadap kerusakan lingkungan dan tergusurnya tatanan hidup lokal yang telah terjaga selama puluhan tahun.
Pulau Pagerungan Besar adalah fakta sejarah bagi industri ekstraktif di Kepulauan Kangean, yang dinilai lebih banyak meninggalkan luka dan kesengsaraan daripada manfaat berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Daerah penghasil minyak justru hidup dalam kemiskinan, terpinggirkan dari hasil kekayaan yang diambil dari tanah mereka sendiri.
Sejak tahun 2007, PT Kangean Energy Indonesia mengeksplorasi minyak dan gas di Pulau Pagerungan Besar, tetapi masyarakat setempat masih menggantungkan hidupnya pada hasil laut, bukan kepada tambang.
Risiko Ekologis yang Tak Terhindarkan
Kegiatan tambang minyak memiliki dampak lingkungan yang luas. Resiko pencemaran laut akibat tumpahan minyak, degradasi terumbu karang, serta rusaknya habitat biota laut adalah ancaman nyata bagi ekosistem Kangean. Menurut Rokhim Dahuri (2004), kerusakan ekosistem laut seperti terumbu karang dan mangrove tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga produktivitas perikanan dan ketahanan pangan nelayan tradisional. Tidak hanya itu, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dirilis oleh Antara pada 15 Juli 2024, keberadaan pulau-pualau kecil sudah mulai lenyap, bahkan tenggelam. Ini menunjukkan terjadinya kerentanan di pesisir yang sifatnya tidak hanya ekologis, tapi juga sosial, ekonomi, dan budaya. Hal itu karena adanya industri ekstraktif bukan hanya karena adanya perubahan iklim.
.Oleh karena itu, laut Kangean yang jernih dan kaya akan keanekaragaman hayati justru seharusnya menjadi wilayah konservasi, bukan zona industri energi kotor. Pemerinntah harus benar-benar memperhatikan kasus ini, karena selain membahayakan masa depan masyarakat dan ekologi laut, Kangean tidak pantas untuk dijadikan sebagai tambang, sebab secara estetika kepualaun Kangean banyak mengandung ekowisata.
Dampak Sosial-Budaya
Eksploitasi migas sangat mungkin menimbulkan konsekuensi sosial yang signifikan. Kehadiran perusahaan besar sering kali memicu ketidakadilan sosial di tengah masyarakat, memicu konflik lahan, serta marginalisasi masyarakat adat dan lokal. Secara kultur, Kangean memiliki warisan budaya yang kaya, termasuk sistem nilai dan kearifan lokal yang berinteraksi harmonis dengan alam. Karenanya, masuknya industri ekstraktif berpotensi mengganggu struktur sosial yang telah ada.
Kedatangan pekerja dari luar daerah akan menjadi erosi bagi budaya di Kepulauan Kangean. Hak-hak adat memungkinkan akan dilanggar bahkan tidak dihargai dalam proses operasional proyek migas.
Saatnya Meninjau Ulang
Pemerintah daerah maupun pusat harus meninjau dan mempertimbangkan ulang proyek migas yang dimaksud. Dampak sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi masyarakat harus menjadi perhatian lebih dari pada kepetingan yang lain. Jika investasi jangka pendek dari tambang minyak tidak sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang akan diwariskan, maka pemerintah hendaknya menghentikan proyek ini. Pembangunan sejati adalah yang berpihak pada kelestarian, bukan yang mengorbankan lingkungan demi kepentingan ekonomi sesaat, apa lagi demi kepentingan oligarki.
*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lahir di Sumenep, 06 Mei 2001, beralamat di Desa Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep.





