Bela Negara dalam Bingkai Ketahanan Ekonomi Domestik

Opini51 views

Oleh: Fadali Rahman
Dosen Pascasarjana Universitas Madura

Peringatan Hari Bela Negara setiap 19 Desember kerap dipahami sebagai pengingat sejarah perjuangan fisik mempertahankan kedaulatan bangsa. Pemaknaan itu tentu tidak keliru, namun di tengah dinamika global yang terus berubah, konsep bela negara perlu dibaca secara lebih kontekstual. Pada era ketika ancaman tidak lagi selalu datang dalam bentuk senjata, ketahanan ekonomi domestik justru menjadi salah satu medan bela negara yang paling menentukan.

Kondisi perekonomian global saat ini ditandai oleh ketidakpastian yang berlapis. Konflik geopolitik, fragmentasi rantai pasok, fluktuasi harga energi dan pangan, serta perlambatan ekonomi dunia memberi tekanan serius bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi seperti ini, kekuatan ekonomi domestik menjadi jangkar utama stabilitas nasional. Negara yang memiliki basis ekonomi kuat akan lebih mampu bertahan, beradaptasi, dan melindungi kepentingan rakyatnya.

Bela negara dalam konteks ekonomi tidak semata-mata berarti menutup diri dari dunia luar. Yang lebih penting adalah membangun fondasi kemandirian dan daya saing nasional. Ketergantungan berlebihan pada impor, terutama untuk kebutuhan strategis, justru memperlemah posisi negara dalam menghadapi guncangan eksternal. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri, industri nasional, dan sektor usaha rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mempertahankan kedaulatan.

Baca Juga:  Kartini Hari Ini: Ketika Emansipasi Berhadapan dengan Realitas Daya Beli yang Melemah

Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sangat krusial dalam kerangka ini. UMKM bukan hanya penopang perekonomian nasional dari sisi jumlah dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga instrumen pemerataan kesejahteraan. Ketika UMKM tumbuh dan berdaya saing, ekonomi domestik memiliki bantalan sosial yang lebih kuat. Namun, hingga kini UMKM masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses pembiayaan, teknologi, hingga pasar. Bela negara dalam arti ekonomi menuntut keberpihakan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan terhadap sektor ini.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Di sisi lain, bela negara juga menuntut partisipasi aktif masyarakat. Memilih produk dalam negeri, mendukung usaha lokal, dan mengembangkan kewirausahaan bukanlah tindakan sederhana tanpa makna. Di balik pilihan-pilihan ekonomi sehari-hari tersebut, tersimpan kontribusi nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan basis produksi nasional. Dalam kerangka ini, patriotisme tidak selalu diekspresikan melalui simbol, melainkan melalui tindakan konkret yang berdampak langsung bagi perekonomian bangsa.

Generasi muda memiliki peran strategis dalam memperluas makna bela negara. Di era digital, medan perjuangan ekonomi bergeser ke ruang inovasi, teknologi, dan kreativitas. Kehadiran startup lokal, industri kreatif, serta pemanfaatan teknologi digital oleh anak bangsa merupakan bentuk baru dari bela negara. Ketika inovasi nasional mampu bersaing di pasar global, di situlah kedaulatan ekonomi menemukan relevansinya.

Baca Juga:  Sambut 1 Muharram 1448 H, Bupati Fauzi Ajak Generasi Muda Sumenep Jadi Agen Perubahan

Namun, ketahanan ekonomi domestik tidak akan kokoh tanpa fondasi etika dan integritas. Kepatuhan pajak, transparansi usaha, serta penolakan terhadap praktik korupsi merupakan bagian dari bela negara yang sering luput dari perhatian. Perekonomian yang tumbuh tanpa tata kelola yang baik akan rapuh dan rentan. Karena itu, bela negara juga berarti menjaga kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi dan institusi negara.

Hari Bela Negara seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui pasar yang sehat, sistem ekonomi yang adil, dan masyarakat yang berdaya. Ketika ekonomi domestik kuat, negara memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk memenuhi kewajiban konstitusionalnya, mulai dari pendidikan hingga perlindungan sosial.

Di tengah tantangan global yang kian kompleks, memperkuat ekonomi domestik adalah pilihan rasional sekaligus strategis. Bela negara hari ini adalah memastikan perekonomian nasional tidak mudah goyah, tetap inklusif, dan berpijak pada kepentingan jangka panjang bangsa. Dari situlah kedaulatan negara dapat dijaga secara berkelanjutan. (*)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *