KABAR MADURA | Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menghantui Kabupaten Pamekasan. Belum genap dua bulan berjalan di tahun 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasam mencatat sebanyak 89 kasus DBD yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Data itu dihimpun sejak Januari hingga Februari 2026. Namun, meski jumlah kasus tergolong tinggi, tidak ada laporan kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan Avira Sulistyowati menjelaskan, meningkatnya kasus DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyebaran kasus terpantau di berbagai rumah sakit dan puskesmas di wilayah Pamekasan.
Avira menjelaskan, pengendalian DBD sejatinya dapat dilakukan dengan menekan perkembangbiakan nyamuk penularnya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Keterlibatan masyarakat sangat diharapkan dalam PSN, sehingga dapat mengendalikan berkembangnya nyamuk,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Kasus DBD paling banyak ditemukan di Kecamatan Pademawu dengan 25 kasus, disusul Kecamatan Kadur sebanyak 16 kasus, dan Kecamatan Pamekasan 14 kasus. Sementara kecamatan lainnya mencatat jumlah yang lebih rendah, bahkan Kecamatan Batumarmar tercatat nihil kasus.
Untuk menekan angka penyebaran, Dinkes Pamekasam terus memperkuat langkah preventif melalui penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui puskesmas dengan melibatkan lintas sektor serta tokoh masyarakat, guna membudayakan gerakan PSN, terutama di masa peralihan musim.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Halili menilai, tingginya kasus DBD tidak lepas dari faktor musim hujan. Menurutnya, kondisi itu menjadi tanggung jawab bersama, baik legislatif maupun eksekutif.
Politisi PPP itu juga mengingatkan jajaran Dinkes hingga puskesmas agar lebih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar genangan air atau wadah air yang sudah lama tidak di pakai untuk terus diperhatikan. Kalau bisa dibuang untuk menghindari terjadinya sarang nyamuk,” tegas Halili. (km94/zul)





