KABAR MADURA | “Jika bukan karena cinta, lalu apa? Jika bukan kita, lalu siapa lagi?” Kalimat sederhana namun memiliki banyak arti. Kalimat ini pun yang menjadi motivasi utama Fathur Rohman Said atau lebih dikenal dengan panggilan Jimhur Saros, sang “ulama” supporter K-Conk Mania.
MIFTAHUL ARIFIN, BANGKALAN
Rasa cinta dan loyalitas menjadi hal mendasar bagi Jimhur Saros dalam memberikan lebih dari separuh perjalanan hidupnya untuk dunia sepak bola. Ya, di kala remaja, Jimhur sudah sering berada di tribun supporter Persebaya Surabaya. Klub lokal Jawa Timur yang menandai cinta Jimhur terhadap sepak bola.
Sedari remaja, Jimhur sudah terbiasa dengan atmosfer pertandingan sepak bola. Menang atau kalah, Jimhur selalu memetik pelajaran berharga dalam setiap pertandingan. Tensi tinggi di lapangan hingga memicu keributan nyaris menjadi hidangan utama pasca pertandingan yang dia tonton.
Namun hal itu tidak menjadikan dirinya berhenti mencintai sepak bola. Pengalaman berharga itu, justru menjadi modal pria berusia 61 tahun itu dalam mendidik supporter di Pulau Madura agar bisa bersikap santun, baik saat menjadi tuan rumah maupun saat bertamu ke markas lawan.
Meski kini usianya sudah tidak lagi muda, Jimhur tetap setia datang ke tribun stadion. Bukan hanya sekadar menonton laga 11 lawan 11 pemain di lapangan hijau. Lebih dari itu, Jimhur merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga supporter pendukung Madura United di lapangan.
Tanggung jawab memberi kenyamanan, menjamin keamanan, hingga pendampingan hukum untuk suporter K-Conk Mania di seluruh distrik atau daerah, dia emban sejak didapuk menjadi Presiden K-Conk Mania pada tahun 2011 hingga saat ini.
“K-Conk Mania tanggung jawab saya. K-Conk Mania bukan hanya home base suporter, tapi sekaligus “pesantren” bagi para penggila bola, khususnya para pendukung Madura United yang saat ini sudah berjumlah ribuan orang,” ungkap Jimhur kepada Kabar Madura, Senin (21/7/2025)
Jimhur menyebut K-Conk Mania selayaknya “pesantren” bukan tanpa alasan. Sebab, di Mabes K-Conk Mania di Bangkalan, dirinya sudah menerima ratusan suporter dengan latar belakang pendidikan, ekonomi, dan keluarga yang beragam.
Bahkan, ada sebagian suporter yang diantarkan secara khusus oleh keluarganya dan dititipkan agar dididik dan diayomi menjadi bagian dari K-Conk Mania. Selain itu, setiap kali terjadi gesekan antarsuporter, dirinya selalu menjadi penengah agar situasi kembali aman dan kondusif.
Tentu, itu bukan tanggung jawab yang ringan. Namun, berkat kecintaannya yang tulus terhadap sepak bola dan Madura United, dia dengan sepenuh hati membimbing dan merangkul para suporter. Tujuannya jelas, yakni menjaga mereka tetap santun dan menjadikan mereka panutan bagi suporter sepak bola di Indonesia.
“K-Conk Mania sudah menjadi keluarga besar yang sudah tersebar di seluruh penjuru negeri. Bahkan, hingga ke luar negeri, di Jeddah, Brunei, Malaysia dan sebagian negara Eropa,” imbuhnya bangga.
Selain cinta yang ugal-ugalannterhadap sepak bola, pria yang sempat mendirikan klub sepak bola lokal di Bangkalan bernama PS Ningrat pada medio 1995-1996 itu mengaku ada sosok penting yang membuat Jimhur bertahan hingga detik ini di tribun stadion.
Sosok itu adalah Presiden Klub Madura United Achsanul Qosasi. Mantan anggota BPK RI tersebut yang selama ini menjadi inspirasi Jimhur untuk terus bersama-sama K-Conk Mania di tribun stadion. Bagi Jimhur, sosok Achsanul Qosasi bukan hanya sekadar pemilik klub sepak bola.
Sosok Achsanul Qosasi sudah dianggap sebagai bapak sepak bola Madura. Melalui tangan dinginnya dalam mengelola dan memajukan Madura United, Pulau Madura bisa dikenal di seluruh penjuru negeri, asia, bahkan seluruh dunia.
Semangat Achsanul Qosasi untuk memajukan Madura dan membawa nama Madura mendunia melalui sepak bola, menjadi pelecut semangat dirinya untuk terus berdedikasi dalam kemajuan sepak bola Madura.
Oleh sebab itu, Jimhur bersama K-Conk Mania di semua distrik akan terus berkomitmen untuk selalu setia mendukung Madura United berlaga di kompetisi tertinggi.
Bahkan, harapan besar Jimhur di usianya yang tidak lagi muda, di usia K-Conk yang sudah 16 tahun, musim ini Madura United bisa meraih juara di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League 2025-2026.
“Tidak ada alasan lagi bagi Madura United untuk tidak juara di musim ini. Apapun rintangannya, kami K-Conk Mania akan mengawal Madura United juara di musim ini,” tutupnya. (zul)





