KABAR MADURA | Memilih menjadi relawan bukan keputusan yang mudah bagi setiap individu. Namun, tidak bagi seorang M. Arinal Haqil Ghifari. Dia justru bangga menjadi relawan pendidikan dan sosial yang berdampak dan berkontribusi lebih untuk tanah kelahirannya. Baginya, kesejahteraan pendidikan dan sosial harus terus diperjuangkan.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Saat tahun 2017, pria yang akrab disapa Ari itu masih menempuh pendidikan di salah satu kampus di Jakarta. Namun, meski tidak ada di kampung halamannya, gerakan Ari untuk menciptakan pendidikan Pamekasan lebih baik justru berdampak. Saat itu, dia aktif di gerakan yang memfasilitasi akses buku gratis untuk masyarakat, khususnya anak-anak. Melalui itulah, dia mulai mengirim buku-buku bacaan ke desanya.
“Saat itu yang mengelola ibu saya, karena saya belum pulang. Jadi, anak-anak itu membaca buku-buku yang saya kirim. Gerakan itu, kami namai Compok Literasi,” terang pria asal Bangkes, Kecamatan Kadur itu kepada Kabar Madura, Kamis (21/3/2024).
Gerakan yang dibangun oleh Ari terus bertumbuh dan berkembang setiap tahunnya. Terlebih, ketika dia sudah pulang kampung pada tahun 2019 lalu. Ari mulai memaksimalkan gerakannya, seperti intens melakukan kegiatan literasi. Di dalamnya, terdapat program lapak buku setiap pekan dengan menyambangi sekolah, dan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya.
Alumnus Universitas Respati Indonesia Jakarta itu bercerita, dia tergerak menjadi relawan karena melihat survei-survei yang menunjukkan pendidikan literasi sangat memprihatinkan, terutama di tempat lahirnya. Sehingga, membuat Ari tergerak untuk mematahkan survei buruk itu melalui gerakan nyata, meski tanpa honor atau gaji.
Selama menjadi relawan, perubahan paling berkesan adalah bisa membuat siswa yang tidak tahu membaca, bisa membaca melalui metode menarik yang dilakukan. Menurutnya, hal itu adalah dampak yang sangat dirasakan.
“Melalui sambang sekolah, kami dorong mereka untuk membaca. Tapi metodenya bukan semata-mata kami menyodorkan buku untuk dibaca. Tapi melalui pendekatan game, jadi mereka ada motivasi,” ungkap pria kelahiran 1995 itu.
Ari berharap, ke depan semakin banyak masyarakat yang bergerak untuk peduli dengan kondisi sosial dan pendidikan di Pamekasan.
Redaktur: Sule Sulaiman





