Bupati Pamekasan: Madura harus Guyub untuk Menuju Kawasan Ekonomi Khusus

KABAR MADURA | Forum pentahelix membincangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang digagas oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Rabu (14/5/2025) diapresiasi Bupati Pamekasan Kholilurrahman. 

Acara yang digelar di Ballroom Hotel Azana, Pamekasan itu disebut menunjukkan peran jurnalis, yang juga memikirkan kemajuan Madura ke depan. 

Secara regulasi, kata bupati dengan sapaan Kiai Kholil tersebut, KEK didasari Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Dalam undang-undang tersebut, kawasan yang ditentukan sebagai KEK akan memiliki pola khusus yang bisa mempercepat laju perekonomiannya. 

Jika dilihat dari kilas balik berdirinya jembatan Suramadu, menurut Kiai Kholil, salah satu yang diinginkan adalah bisa meningkatkan ekonomi Madura. 

“KEK itu dirancang adanya percepatan, sehingga ekonomi di dalam wilayah tertentu yang ditunjuk oleh pemerintah bisa meningkat dengan cepat,” paparnya pada kegiatan pelantikan PWI Pamekasan dan Forum Pentahelix yang mengambil tema Membedah Madura sebagai KEK.

Gagasan Madura sebagai KEK sudah lama dibincangkan, tetapi faktanya belum bisa sampai pada titik aksi. Meski begitu, kata mantan anggota DPR RI itu, terbentuknya KEK di Madura perlu waktu dan kerja sama berbagai pihak. Dia menilai, kolaborasi para pemangku kebijakan belum padu, sehingga KEK yang sudah lama digaungkan belum bisa tercapai. 

Menurutnya, analisis terhadap kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan berbagai faktor pendukung lainnya harus dipetakan secara komprehensif, agar wacana KEK bisa segera dirajut. 

Secara eksplisit, wilayah yang dipimpinnya saat ini memiliki beberapa unggulan dalam berbagai hal, di antaranya; potensi tembakau, pengolahan garam, peternakan, dan sektor pertanian. Saat ini, sedang dijalin komunikasi untuk mengkolaborasikan Pemkab Pamekasan dengan pengusaha tembakau.

Baca Juga:  Sidak RSUD Smart, Bupati Pamekasan Tekankan Evaluasi dan Pelayanan Humanis

“Jadi kita bisa guyub antara satu dengan yang lain, tidak berhadapan secara negatif, akan tetapi bisa saling melengkapi,” imbuhnya. 

Ditegaskan pula, pembangunan Madura, khususnya Pamekasan, butuh kerja ekstra dan pemikiran cerdas dari warganya. Alasannya, kemajuan suatu wilayah lahir dari spirit dan kerja nyata. Dia mencontohkan Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah, dari yang awalnya desa miskin menjadi desa kaya karena mampu menciptakan objek wisatanya. 

Masak Madura yang banyak sarjana dan orang pintarnya tidak bisa lebih baik, atau melakukan lompatan-lompatan, sehingga terjadi percepatan pembangunan Madura,” tutupnya. (rul/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *