Dari Madura untuk Sumatra (Seri 2): Catatan Perjalanan Penyaluran Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh, Sumut, Sumbar

Harmoni89 views

Muhammad Khairul Umam

Tim Relawan Bawang Mas Grup | Jurnalis Kabar Madura

Rabu pagi, 14 Januari 2026, sekitar pukul 09.00 WIB, aktivitas kami sudah dimulai. Di sebuah ruang sederhana, rapat persiapan dan skema evakuasi bantuan digelar. Meja rapat tidak penuh dengan kertas, tetapi dengan peta lokasi, catatan kebutuhan, dan diskusi yang sesekali terhenti oleh suara alat berat di kejauhan, tanda bahwa proses pemulihan masih terus berjalan.

Sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, kami bertemu dan berkoordinasi dengan Relawan Wahana Muda Indonesia (WMI). Pertemuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya menyatukan data dan intuisi lapangan: wilayah mana yang benar-benar membutuhkan bantuan paling mendesak, dan bantuan apa yang paling relevan. Di titik ini, kolaborasi menjadi kunci. Bencana terlalu besar untuk ditangani sendiri-sendiri.

Kegiatan Muhammad Khairul Umam, Tim Relawan Bawang Mas Grup, Jurnalis Kabar Madura, dalam penyaluran bantuan korban banjir bandang di Aceh, Sumut, Sumbar.

Hasil koordinasi mengerucut pada satu wilayah yang kondisinya disebut paling parah di Kabupaten Aceh Tamiang: Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Tepat pukul 13.00 WIB, kami berangkat dari Kecamatan Karang Baru menuju Lubuk Sidup. Perjalanan sekitar satu jam terasa jauh lebih panjang ketika mulai memasuki kawasan terdampak. Di kiri-kanan jalan, sisa-sisa banjir bandang masih jelas terlihat: tumpukan kayu, lumpur mengering, dan bangunan yang tak lagi utuh.

Barang bantuan yang kami bawa hari itu sederhana, tetapi penuh makna: 10 karton susu Milku, 5 karton snack, 5 karton roti, 2 karton permen Yuppi, serta 150 unit rice cooker yang masih dalam proses distribusi lanjutan. Semua bantuan itu kami niatkan khusus untuk anak-anak korban bencana, mereka yang paling rentan, tetapi sering kali paling tabah.

Kegiatan Muhammad Khairul Umam, Tim Relawan Bawang Mas Grup, Jurnalis Kabar Madura, dalam penyaluran bantuan korban banjir bandang di Aceh, Sumut, Sumbar.

Kami tiba di Lubuk Sidup dan berada di lokasi hingga pukul 17.00 WIB. Desa ini adalah wilayah terdampak paling parah di Aceh Tamiang. Sebanyak 152 kepala keluarga kehilangan rumah, dan hingga hari ini masih bertahan hidup di tenda-tenda darurat di bantaran sungai, tak jauh dari lokasi yang dahulu menjadi tempat tinggal mereka.

Untuk kebutuhan sembako, warga relatif sudah tercukupi. Namun, dari hasil dialog dengan warga dan relawan lokal, satu kebutuhan mendesak mengemuka: rice cooker. Bulan Ramadan sudah di depan mata, dan bagi keluarga yang tinggal di tenda tanpa dapur layak, alat itu menjadi kebutuhan mendasar, bukan kemewahan.

Di tengah reruntuhan bangunan yang roboh dan kayu-kayu besar yang berserakan, ada satu pemandangan yang menancap kuat di ingatan: Masjid Nurussalam. Di antara kehancuran, masjid itu tetap berdiri kokoh, seolah menjadi penanda bahwa harapan belum sepenuhnya runtuh.

Kegiatan Muhammad Khairul Umam, Tim Relawan Bawang Mas Grup, Jurnalis Kabar Madura, dalam penyaluran bantuan korban banjir bandang di Aceh, Sumut, Sumbar.

Yang lebih menggetarkan, dari masjid itu terdengar suara anak-anak mengaji. Mereka duduk sederhana, belajar dan membaca Al-Qur’an, dengan latar belakang puing-puing bangunan yang belum sempat dibersihkan. Semangat mereka seperti menyangkal logika bencana.

Di sanalah saya bertemu Icuk, Nabila, dan Ila, anak-anak Aceh Tamiang yang wajahnya masih menyimpan lelah, tetapi matanya penuh cahaya. Ketika ditanya apa yang mereka butuhkan, jawabannya bukan soal makanan atau mainan. Mereka menyebut mukena dan Al-Qur’an.

M. Khairul Umam saat bertemu Icuk Nabila dan Ila, anak-anak Aceh Tamiang yang tetap semangat beribadah. Mereka tidak bertanya bantuan makanan tapi mukenah dan Alquran.

Kalimat itu membuat dada sesak. Ada rasa merinding yang sulit dijelaskan, dan mata yang tiba-tiba basah. Di tengah kehilangan rumah, rasa aman, dan rutinitas hidup, yang mereka jaga justru ibadah dan harapan.

Hari itu kami belajar satu hal penting: bantuan kemanusiaan bukan hanya soal logistik, tetapi tentang menjaga martabat, iman, dan masa depan mereka yang terdampak.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, kami meninggalkan Lubuk Sidup dengan perasaan campur aduk; lelah, haru, dan sekaligus dikuatkan. Perjalanan belum selesai. Masih ada titik lain, masih ada cerita lain, dan masih banyak tangan yang menunggu untuk digenggam.

Bersambung ke Seri 3

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *