Dari Madura untuk Sumatra (Seri 4): Catatan Perjalanan Penyaluran Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh, Sumut, dan Sumbar

Harmoni4,234 views

Muhammad Khairul Umam

Tim Relawan Bawang Mas Group | Jurnalis Kabar Madura

Jumat pagi, 16 Januari 2026, kami meninggalkan Medan dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih dari perjalanan panjang sehari sebelumnya. Usai menyalurkan bantuan ke Desa Lama dan Desa Lama Baru, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, kami kembali mengikat tujuan ke satu titik yang sejak awal menjadi poros pergerakan: posko Wahana Muda Indonesia (WMI) di Kecamatan Manyak Peyat, Kabupaten Aceh Tamiang.

Perjalanan sekitar empat jam itu kembali menguji kesabaran. Begitu memasuki wilayah Aceh, jalanan tak lagi ramah. Lubang-lubang menganga, debu bercampur sisa lumpur banjir, dan jejak kerusakan yang masih segar menjadi pemandangan berulang. Truk dan kendaraan yang lalu-lalang seolah dipaksa berjalan pelan, sepelan pemulihan yang sedang diupayakan warga di sepanjang jalur ini.

Setiba di posko WMI, suasana terasa lebih hidup. Tim Bawang Mas Group yang sebelumnya terpisah akhirnya kembali berkumpul. Tim kedua telah lebih dulu tiba Kamis malam, 15 Januari 2026, sepulang dari Dusun Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, wilayah yang hingga kini masih terisolasi akibat jembatan putus.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Di sela persiapan berangkat ke Kampung Durian, Kota Kuala Simpang, Aceh, untuk kegiatan trauma healing bagi korban banjir, Azif Mawardi Zein, salah satu anggota tim kedua sempat berbagi kisah. Tuturannya singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan beratnya medan yang mereka lalui. Cerita Azif, timnya bersama relawan WMI, berangkat dari posko sekitar pukul 10.00 WIB pagi. Jalan berlumpur, gelondongan kayu berserakan, serta rumah-rumah yang roboh dan rata dengan tanah menyambut sepanjang perjalanan. Kampung-kampung yang mereka lewati tampak sunyi, seperti ditinggalkan kehidupan.

 

Bantuan yang kami bawa tidak sedikit: 146 tabung gas elpiji lengkap dengan regulator, beras, minyak goreng, telur, 13 set kompor, dua tandon air berkapasitas 500 liter, satu tandon 1.000 liter, dua unit pompa air, serta berbagai kebutuhan lainnya. Setiap barang memiliki tujuan, setiap paket menyimpan harapan.

 

Perjalanan yang dalam kondisi normal bisa ditempuh sekitar dua setengah jam, membengkak menjadi hampir empat jam. Itu pun belum cukup. Mereka terhenti di Sungai Liput, tepat di bekas jembatan yang kini tinggal kenangan. Dari titik itulah bantuan harus diturunkan dan diseberangkan ke Pante Kera menggunakan perahu kayu.

 

Kisah serupa disampaikan Ucok, nama panggilan MD Gusli Piliang, relawan WMI asal Sumatra Utara yang bergerak di bidang advokasi. Menurutnya, proses menurunkan hingga menyeberangkan bantuan memakan waktu sekitar empat jam. Perahu kecil atau getek harus bolak-balik tiga kali, dengan waktu sekitar 30 menit sekali menyeberang. Dalam sekali jalan, tiga perahu dikerahkan sekaligus. Total waktu yang dibutuhkan hingga bantuan benar-benar tersalurkan mencapai sekitar tujuh jam.

“Iya, bolak-balik, karena perahunya kecil, bang,” ujar Ucok, singkat.

 

Tak ada jeda panjang untuk beristirahat. Usai penyaluran, tim kedua Bawang Mas Group bersama sebagian relawan WMI langsung kembali ke posko Manyak Peyat malam itu juga, sekitar pukul 22.00 WIB. Karena agenda berikutnya telah menunggu, yakni persiapan kegiatan trauma healing bagi korban banjir di Kampung Durian, Kota Kuala Simpang, Aceh.

Namun, tidak semua relawan ikut kembali. Sebagian memilih bertahan di Pante Kera untuk melanjutkan pekerjaan esok hari; membangun instalasi air bersih dari sumber air di seberang sungai, sekitar dua kilometer dari desa. Air itu nantinya dipompa dan ditampung di tandon besar agar bisa digunakan warga.

 

Usai menyampaikan kisahnya, Azif dan tim kedua Bawang Mas Group lainnya langsung berangkat ke Kampung Durian untuk kegiatan trauma healing bagi korban banjir. Tim ini berangkat bersama sejumlah relawan WMI.

 

Hingga laporan ini ditulis pada pukul 20.30 WIB, tim kedua, Azif Mawardi Zein, Bahrul Rozi, Khairul Rozi, dan Solihin Pure, belum tiba kembali di posko. Kami dari tim pertama, saya sendiri, M. Khairul Umam, bersama Dedi HS, memilih bersiaga. Waktu rehat kami isi dengan bercengkerama bersama relawan WMI, membangun keakraban, dan bertukar cerita lapangan.

Evaluasi dan perencanaan kegiatan esok hari baru akan dilakukan setelah seluruh tim kembali lengkap. Perjalanan kemanusiaan ini belum selesai. Jalan masih panjang, agenda masih berlapis, dan cerita-cerita dari lapangan akan terus menyusul.

Bersambung ke Seri 5

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *