KABAR MADURA | Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep baru mendeteksi penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kembali menyerang hewan ternak pada akhir bulan lalu.
Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid menyampaikan, munculnya kasus PMK di Kota Keris terjadi sejak akhir November. Namun sedikit masyarakat yang melaporkan ke pihaknya.
“PMK sekarang muncul lagi di Sumenep, sekitar 17 sapi yang terkena PMK,” kata dia.
Dia menduga, penyakit tersebut muncul karena ada hewan ternak yang masuk dari luar daerah. Sapi tersebut diduga terinfeksi penyakit yang disebabkan aphthovirus. Sebab, di masa saat ini, biasanya masyarakat membeli ternak setiap habis masa panen tembakau.
Ternak yang dibeli dari pasar itulah yang berpotensi menyebarkan penyakit. Belasan sapi yang terdeteksi PMK itu sebagian ada di Kecamatan Lenteng dan beberapa daerah yang lainnya.
“Kami meminta masyarakat harus aktif berkoordinasi, apalagi masyarakat sudah mengetahui cara melapor jika ditemukan ternak yang bermasalah,” imbuhnya.
Dia juga menjelaskan, saat ini setiap kecamatan sudah ada petugas sehingga penanganannya lebih cepat. Sehingga dia meyakini, belasan ekor sapi yang terserang virus itu sudah tertangani dengan baik. Menurutnya, jumlah kasus PMK juga terlapor di sistem Informasi Kesehatan Hewan Indonesia (iSIKHNAS). Itu terdeteksi sejak akhir November.
Untuk mencegah PMK meluas, pihaknya terus melakukan pemantauan dan mengarahkan peternak untuk melakukan karantina terhadap sapi yang sedang sakit dan fokus pengobatan.
”Karena kalau melapor ke petugas, langsung ditangani dengan cepat. Pokoknya kalau tidak mendatangkan sapi baru itu relatif aman,” ujarnya.
Masyarakat juga diimbau tetap menjaga kebersihan kandang dan memberikan pakan yang bagus pada ternak agar terhindar dari kasus PMK tersebut. (ara/waw)





