KABAR MADURA | Penyakit batu empedu tak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut. Kini, pasien usia muda juga mulai banyak terdiagnosis penyakit tersebut. Pola hidup dan pola makan yang tidak seimbang menjadi penyebab utama.
Batu empedu merupakan endapan cairan pencernaan yang mengeras di kantung empedu, organ kecil yang terletak di perut bagian kanan atas dan berfungsi dalam proses metabolisme tubuh.
Dokter Spesialis Bedah RSUD Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan, dr. Rossi Nurfajariansyah, menyebutkan terdapat tiga jenis batu empedu yang umum ditemukan, yaitu batu kolesterol, batu pigmen, dan batu campuran.
“Kalau batu kolesterol, cirinya kuning kehijauan cerah. Batu pigmen cirinya hijau kecoklatan. Sementara batu campuran kombinasi antara kedua jenis sebelumnya,” jelasnya saat on air di Radio Ralita FM, Jumat (25/7/2025).
Rossi menjelaskan, munculnya batu empedu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari obesitas, usia, konsumsi lemak atau kolesterol berlebih, penggunaan obat-obatan, hingga faktor hormonal.
“Gender perempuan lebih banyak terserang batu empedu karena dipengaruhi oleh hormon estrogen,” jelasnya.
Gejala batu empedu umumnya berupa nyeri pada perut kanan atas yang dapat menjalar hingga ke punggung atau bahu. Kondisi ini disebut nyeri kolik bilier.
“Memang tidak semua batu empedu ini harus dioperasi. Tergantung dari skala batu dan nyeri tidak. Jika skalanya kecil dan tidak nyeri, tidak dilakukan operasi. Tapi rata-rata, pasien yang saya tangani itu dioperasi,” urainya.
Sebagai tindakan pencegahan, dr. Rossi menyarankan agar masyarakat menjaga berat badan ideal, mengatur asupan makanan, rutin berolahraga, serta mengonsumsi obat sesuai resep dokter.
“Jika dioperasi, kantung empedunya juga harus diangkat, karena itu tidak beresiko ke kesehatan. Lebih baik hidup dengan tidak ada kantung empedu daripada hidup memelihara batu,” tambahnya. (nur/zul)





