Hampir Punah, Mamang Harus Jadi Penari Dhânggâ’ Termuda di Madura

Berita194 views

Kearifan lokal menjadi kekayaan tersendiri bagi setiap daerah. Oleh karenanya, masing-masing individu memiliki tanggung jawab penuh atas pelestarian kearifan lokal. Tari Dhânggâ’ salah satunya. Dia adalah kearifan lokal Pamekasan yang penuh nilai kebudayaan. Namun, dewasa ini tarian tersebut seolah terdengar asing di telinga masyarakat lokal. Pasalnya, tari Dhânggâ’ minim peminat. 

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Zainurrohman adalah pemuda asal Pademawu Timur, yang memilih berkarir sebagai penari Dhânggâ’ sejak duduk di bangku SMP. Dia menyadari, bahwa tari Dhânggâ’ kebanggaan masyarakat Pamekasan mulai tidak dilirik. Sehingga menurutnya, pelestarian tari Dhânggâ’ harus dimulai darinya, sebagai generasi muda. 

“Dari awal memang sudah lekat dengan tari Dhânggâ’. Karena sesepuh saya seniman Dhânggâ’. Semakin ke sini, makin sadar kalau tarian ini butuh regenerasi. Jadi saya memutuskan menggelutinya,” jelas pria yang akrab disapa Mamang itu. 

Di usianya yang kini akan segera  menginjak 20 tahun, Mamang merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk melestarikan seni tari Dhânggâ’. Sebab itulah dirinya berusaha mengajak anak-anak tetangga sekitar rumah untuk ikut latihan tari Dhânggâ’. Hal itu dilakukan agar regenerasi tari Dhânggâ’ tetap terjaga di kalangan anak muda. 

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

“Sebagian ada yang mau, sebagian juga ada yang tidak mau, karena malu,” jelasnya. 

Mahasiswa IAIN Madura itu mengaku, personel penari Dhânggâ’ rata-rata sudah sepuh. Mamang menjadi penari termuda. Kendati demikian, dia tidak merasa terganggu dan bahkan cepat beradaptasi dengan penari lain, meski terpaut usia yang cukup jauh. 

Debutnya sebagai penari Dhânggâ’ diawali dengan perform di acara lokal perusahaan rokok beberapa tahun silam. Meski selama proses latihan dia malu-malu di awal, Mamang berhasil tampil spektakuler di debutnya itu. 

Dhânggâ’ ini sebenarnya tidak susah. Hanya saja, harus menyesuaikan dan mengatur tempo suara kita dengan penari lain. Karena tarian ini, musiknya akapela. Terkadang kalau latihan sampai serak. Karena kita totalitas,” tutup pria kelahiran 16 Maret 2004 tersebut. (zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *