Harga Garam Belum Layak, DPR Desak Pemerintah dan Pengusaha Turun Tangan

Berita79 views

KABAR MADURA | Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan, menyoroti rendahnya harga garam di Madura yang hingga kini belum menguntungkan petambak. Meski kebutuhan garam cukup besar, nilai jualnya dinilai masih jauh dari kata berpihak.

Menurutnya, persoalan garam di Indonesia cukup pelik karena menyangkut tata niaga, kualitas produksi, hingga keberpihakan pemerintah terhadap petambak lokal. Jika kondisi ini dibiarkan, ia khawatir daya saing garam nasional terus merosot.

“Masalahnya bukan hanya produksi, tapi juga distribusi dan harga yang terlalu rendah. Petambak sulit berkembang jika nilai jualnya tak sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan,” ujarnya, Senin (12/8/2025).

Baca Juga:  DPR RI Usulkan Pelunasan Haji Diangsur Selama Masa Tunggu 

Eric mendorong keterlibatan pengusaha dalam mengangkat industri garam, sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan pelaku usaha di sektor tembakau di Madura.

Ia menilai, sinergi antara petambak, pemerintah, dan pengusaha menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah garam lokal.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

“Kalau garam lokal bisa diolah menjadi produk berkualitas dengan pasar yang jelas, petambak pasti lebih sejahtera. Kita harus bergerak cepat sebelum industri garam semakin terpuruk,” tegasnya.

Baca Juga:  Soroti Kekerasan yang Meningkat, Ansari Dorong Advokasi Nyata Lindungi Perempuan dan Anak

Sebagaimana disampaikan petambak asal Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Moh. Saleh, menyebut harga garam saat ini masih Rp950 per kilogram.

Ia mengharapkan, supaya pemerintah mengawal kenaikan harga minimal menjadi Rp1.500 per kilogram serta menghentikan impor garam.

“Kalau impor dihentikan, petambak akan lebih bersemangat dan harga bisa stabil,” katanya.

Senada, petambak dari Desa Lembung, Kecamatan Galis, Fathorohim, berharap harga garam lokal bisa mencapai Rp1.500–Rp2.000 per kilogram agar hasil panen terserap optimal. (rul/ong)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *