KABAR MADURA | Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan, menyoroti rendahnya harga garam di Madura yang hingga kini belum menguntungkan petambak. Meski kebutuhan garam cukup besar, nilai jualnya dinilai masih jauh dari kata berpihak.
Menurutnya, persoalan garam di Indonesia cukup pelik karena menyangkut tata niaga, kualitas produksi, hingga keberpihakan pemerintah terhadap petambak lokal. Jika kondisi ini dibiarkan, ia khawatir daya saing garam nasional terus merosot.
“Masalahnya bukan hanya produksi, tapi juga distribusi dan harga yang terlalu rendah. Petambak sulit berkembang jika nilai jualnya tak sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan,” ujarnya, Senin (12/8/2025).
Eric mendorong keterlibatan pengusaha dalam mengangkat industri garam, sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan pelaku usaha di sektor tembakau di Madura.
Ia menilai, sinergi antara petambak, pemerintah, dan pengusaha menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah garam lokal.
“Kalau garam lokal bisa diolah menjadi produk berkualitas dengan pasar yang jelas, petambak pasti lebih sejahtera. Kita harus bergerak cepat sebelum industri garam semakin terpuruk,” tegasnya.
Sebagaimana disampaikan petambak asal Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Moh. Saleh, menyebut harga garam saat ini masih Rp950 per kilogram.
Ia mengharapkan, supaya pemerintah mengawal kenaikan harga minimal menjadi Rp1.500 per kilogram serta menghentikan impor garam.
“Kalau impor dihentikan, petambak akan lebih bersemangat dan harga bisa stabil,” katanya.
Senada, petambak dari Desa Lembung, Kecamatan Galis, Fathorohim, berharap harga garam lokal bisa mencapai Rp1.500–Rp2.000 per kilogram agar hasil panen terserap optimal. (rul/ong)





