HET Beras Naik, Ekonom: Bisa Berkontribusi terhadap Terjadinya Inflasi

News74 views

KABAR MADURA | Harga eceran tertinggi (HET) beras bulog mengalami kenaikan. Kenaikan HET itu telah berlaku sejak akhir April lalu. Mulainya, HET beras premium bulog berada di angka Rp13.900, kini menjadi Rp14.900. Sementara HET beras medium dari Rp10.900 menjadi Rp12.500. 

Pimpinan Perum Bulog Cabang Madura Kuswadi mengatakan, kenaikan HET beras tersebut berlaku  hingga 31 Mei mendatang. Dia menyebut, relaksasi kenaikan HET itu terjadi lantaran rata-rata harga beras medium dan premium secara nasional cenderung tinggi. Sehinga, diperlukan relaksasi HET beras dalam menjaga stabilitas pasokan beras. 

“Kami tidak bisa menyebut apakah kenaikan ini termasuk wajar atau tidak. Karena keputusan ini berdasarkan pemangku kebijakan, kami hanya sebagai eksekutor, ” paparnya, Selasa (7/5/2024). 

Selama 2023, kenaikan HET beras ini juga pernah terjadi satu kali. Awalnya, dari Rp9.450 menjadi Rp10.900. Sementara untuk tahun ini, pihaknya tidak  bisa memastikan apakah HET itu nantinya akan kembali ke harga awal atau tetap stagnan di harga yang sekarang. 

“Setelah ini kami tunggu keputusan lebih lanjut. Apakah akan tetap di harga yang sekarang (Rp12.500 dan Rp14.900) atau kembali lagi ke harga sebelumnya,” tambah Kuswadi. 

Sementara itu, Praktisi Ekonom IAIN Madura Fahrurrozi mengatakan, kenaikan HET beras ini apabila dilihat dari biaya produksi dan permintaan, masih terbilang wajar. Sebab permintaan beras secara umum masih cukup tinggi. Begitupun dengan biaya produksi yang notabene juga mengalami kenaikan, mulai dari pupuk hingga ongkos tenaga kerja.

Namun perlu digarisbawahi, kata Fahrurrozi, kenaikan harga itu dapat berkontribusi pada inflasi, terutama jika kenaikan itu bersifat umum dan mempengaruhi harga-harga secara luas di perekonomian. Menurutnya, hal itu harus menjadi perhatian pemerintah dalam memutuskan kebijakan-kebijakan. 

“Inflasi dipengaruhi banyak faktor selain harga beras, seperti kebijakan pemerintah kondisi ekonomi global, dan lain-lain. Dan yang perlu menjadi perhatian juga adalah, apakah kenaikan tersebut dapat dirasakan oleh petani, atau jangan-jangan hanya dirasakan oleh orang-orang tertentu,” beber Ketua Prodi Ekonomi Syariah IAIN Madura itu. 

Pewarta: Safira Nur Laily

Redaktur: Sule Sulaiman 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *