Ikhtiar Bersama Membangun Masa Depan Desa Lancar dan IBS PKMKK: Menyambut UAS, Menyemai Peradaban Melalui Wisata Edukatif-Religius

Pendidikan11 views

KABAR MADURA | Kedatangan ulama besar Indonesia, Prof. Dr. KH. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., dalam rangka Haul Akbar Sesepuh Kembang Kuning yang akan diselenggarakan pada 1 Agustus 2026 di lingkungan IBS PKMKK, merupakan agenda seremonial keagamaan tahunan.

Peristiwa ini telah menjadi momentum sosial, spiritual, dan kultural yang menggerakkan berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambut hadirnya ribuan jamaah dari berbagai daerah.

Di balik persiapan tersebut, tersimpan sebuah semangat kolektif tentang bagaimana sebuah desa, pesantren, dan masyarakat dapat berkolaborasi membangun masa depan yang lebih baik melalui jalan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan sosial.

Keseriusan itu tampak dari langkah nyata Kepala Desa Lancar, H. Mohammad Hosli, yang secara langsung memberikan perhatian besar terhadap perbaikan dan pelebaran akses jalan menuju IBS PKMKK.

Upaya tersebut bukan hanya ditujukan untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu dan jamaah yang akan menghadiri Haul Akbar, tetapi juga merupakan bagian dari visi jangka panjang pembangunan Desa Lancar. Jalan yang baik dan infrastruktur fisik, adalah urat nadi peradaban yang menghubungkan manusia, pengetahuan, ekonomi, dan masa depan.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

“Aksesibilitas merupakan fondasi utama yang menentukan tumbuh atau tidaknya sebuah kawasan pendidikan, ekonomi, maupun wisata. Karena itu, langkah Pemerintah Desa Lancar sesungguhnya mencerminkan cara pandang yang progresif bahwa pembangunan fisik harus diarahkan untuk menopang pembangunan manusia dan peradaban,” ujar Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Prof. Dr. Achmad Muhlis.

Pada saat yang sama, perbaikan akses jalan tersebut juga menjadi bagian dari kesanggupan dan komitmen Pemerintah Desa Lancar dalam mendukung rancangan besar pengembangan Destinasi Wisata Edukatif-Religius yang saat ini mulai dirintis oleh IBS PKMKK bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lancar.

Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat melalui pendekatan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.

Oleh karena itu, pembangunan kawasan wisata yang dirancang dan diorentasikan pada aspek rekreasi, serta mengintegrasikan pendidikan, spiritualitas, lingkungan, ekonomi kreatif, olahraga sunnah, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Baca Juga:  Manasik Haji IBS PKMKK Tanamkan Kesadaran Spiritual dan Nilai Tauhid pada Santri

Dalam beberapa bulan terakhir, IBS PKMKK secara aktif melakukan berbagai penjajakan dan silaturrahim dengan sejumlah pengusaha, praktisi, dan pengembang kawasan wisata di berbagai daerah, termasuk Kota Malang yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan wisata edukatif dan wisata keluarga di Indonesia.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan tidak dibangun atas dasar spontanitas, melainkan melalui proses belajar, observasi, dan dialog yang panjang dengan berbagai pihak yang telah memiliki pengalaman dalam mengelola kawasan wisata secara profesional.

Direktur Utama IBS PKMKK meyakini bahwa sebuah gagasan besar memerlukan jejaring kolaborasi yang luas, karena masa depan tidak pernah dibangun sendirian. Masa depan dibangun melalui perjumpaan ide, pengalaman, dan kesediaan untuk belajar dari keberhasilan orang lain.

Keseriusan tersebut semakin terlihat ketika pada Selasa 23 Juni 2026, IBS PKMKK menerima kunjungan sekaligus melakukan diskusi strategis dengan salah satu investor dan praktisi pengembangan kawasan wisata dari Timur Tengah, Dr. Eng. Waleed, yang selama ini dikenal memiliki pengalaman dalam pengembangan destinasi wisata di Lombok, Indonesia.

Pertemuan tersebut membuka ruang dialog yang sangat konstruktif mengenai kemungkinan kerja sama pengembangan wisata edukatif-religius di kawasan IBS PKMKK dan Desa Lancar.

Tidak hanya itu, pembahasan juga berkembang pada peluang kerja sama internasional di bidang pertukaran pelajar, pengembangan tenaga kependidikan, penguatan jejaring pendidikan dengan Timur Tengah, hingga pengembangan pembelajaran Bahasa Arab bagi penutur non-Arab yang menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penguatan kompetensi global santri.

Dalam pandangan Dr. Eng. Waleed, keberanian IBS PKMKK untuk merancang sebuah kawasan wisata berbasis pesantren merupakan langkah yang visioner dan memiliki prospek yang sangat baik apabila dikembangkan secara profesional.

Menurutnya, salah satu kekuatan utama yang dimiliki IBS PKMKK adalah keberhasilannya memadukan dimensi keagamaan, pendidikan, sains, teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu konsep yang terintegrasi.

Model seperti ini sangat relevan dengan kecenderungan dunia saat ini yang mulai mencari bentuk pembangunan yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial, pendidikan, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Namun demikian, pihaknya juga memberikan masukan penting bahwa seluruh gagasan besar tersebut memerlukan fondasi perencanaan yang kuat.

Baca Juga:  Penyerahan 197 Buku Santri IBS PKMKK dalam Kunjungan Kepala Kementerian Agama Jawa Timur

Oleh karena itu, penyusunan master plan, blueprint pengembangan kawasan, studi kelayakan, analisis sumber daya alam, pemetaan potensi sosial masyarakat, serta perencanaan bisnis jangka panjang menjadi tahapan yang harus dipersiapkan secara matang. Sebab keberhasilan sebuah kawasan wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan konsepnya, melainkan oleh ketepatan perencanaannya dan konsistensi dalam implementasinya.

Respon positif yang datang dari para pengusaha nasional maupun pemerhati pendidikan dan wisata religi dari Timur Tengah menjadi sumber optimisme sekaligus energi moral untuk terus bergerak bagi IBS PKMKK.

Dukungan tersebut menunjukkan bahwa apa yang selama ini dirintis di pelosok Desa Lancar ternyata memiliki daya tarik dan relevansi yang melampaui batas geografis. Sebuah pesantren yang berangkat dari kesederhanaan kini mulai dilihat sebagai laboratorium masa depan yang mencoba memadukan pendidikan, spiritualitas, lingkungan hidup, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu model pembangunan yang utuh.

“Seluruh ikhtiar ini merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun peradaban. Kehadiran Prof. Dr. KH. Abdul Somad pada Haul Akbar nanti menjadi simbol bertemunya tradisi keilmuan, dakwah, dan pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Ketua Senat UIN Madura itu, perbaikan jalan yang dilakukan Pemerintah Desa Lancar menjadi simbol keterhubungan dan kemajuan. Kolaborasi dengan BUMDes, pengusaha nasional, dan mitra internasional menjadi simbol keterbukaan terhadap perubahan.

Sementara pengembangan wisata edukatif-religius menjadi simbol harapan bahwa pesantren dapat terus hadir sebagai pusat transformasi sosial yang memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa.

Kini yang tersisa adalah menjaga ikhtiar, memperkuat kolaborasi, dan terus melangkah dengan optimisme. Sebab setiap gagasan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan. Dan apabila Allah SWT berkehendak, apa yang hari ini masih berupa rancangan dan cita-cita, kelak akan menjadi kenyataan yang menghadirkan keberkahan bagi Desa Lancar, IBS PKMKK, Kabupaten Pamekasan, dan masyarakat yang lebih luas.

“Semoga Allah menakdirkan segala ikhtiar baik ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya sepanjang masa,” tukasnya. (*)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *