KABAR MADURA | Petani asal Desa Ragang, Kecamatan Waru Hawati mengeluhkan kekurangan pupuk subsidi melalui distributor pupuk di Pamekasan.
Hawati menyampaikan, saat ini dirinya mendapat jatah pupuk lebih sedikit dari sebelumnya. Padahal, keberadaan pupuk kini sangat dibutuhkan petani.
Diketahui, pada 2023, Hawati mendapatkan bantuan pupuk subsidi sebanyak 1 kuintal atau 2 karung. Sedangkan tahun ini hanya mendapatkan 1 karung, yakni 50 Kilogram. Itu pun harus menunggu hingga Maret mendatang, dikarenakan pupuk yang diambil sudah tidak ada stok.
Dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan jumlah jatah pupuk bagi petani di Pamekasan, agar pertanian yang memperoleh hasil maksimal dari sebelumnya.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Nolo Garjito menyampaikan, jatah pupuk di Pamekasan tiap tahun menurun. Bahkan, jatah yang turun ke kabupaten tidak sampai 50 persen dari jumlah yang diajukan. Pihaknya mengaku sudah mengusahakan semaksimal mungkin untuk memperoleh jatah lebih banyak, namun tidak tercapai.
Menurutnya, keputusan untuk memberikan jatah tersebut sudah diputuskan oleh pemerintah pusat, pihaknya memastikan bahwa jumlah pupuk sejak tahun ke tahun tidak sesuai dengan jumlah yang diajukan, padahal usulan tersebut sudah disesuaikan dengan laporan yang diterima dari tiap-tiap kecamatan.
“Kami yakin jumlah yang diusulkan tidak sama dengan jumlah yang turun setiap tahunnya,” ungkapnya.
Kepada Kabar Madura, Nolo Garjito menyampaikan jatah pupuk tersebut diberikan kepada perorangan yang disesuaikan dengan luas lahan yang dikelola. Jika jatah pupuk tidak mencukupi untuk obat tanaman yang dikelola, pihaknya sudah menyiapkan beberapa program selama 2024.
Salah satu program tersebut yaitu pelatihan pembuatan pupuk organik yang ditujukan kepada kelompok tani. Tujuannya, agar dapat mengatasi persoalan pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Pewarta: Moh. Farid
Redaktur: Hairul Anam





