Kapolres Sampang Ungkap Alasan Polisi Tembakkan Gas Air Mata saat Demo Pilkades

Berita119 views

KABAR MADURA | Aksi demonstrasi ribuan warga di depan kantor DPRD Sampang, Selasa (28/10/2025), sempat berlangsung ricuh. Massa yang menuntut kejelasan jadwal pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak bersitegang dengan aparat keamanan lantaran bersikeras ingin menyuarakan aspirasi dari halaman kantor dewan.

Kapolres Sampang AKBP Hartono menyampaikan, ada permintaan dari pendemo untuk menyampaikan aspirasi di dalam halaman kantor bukan di luar kantor DRPD, Menurutnya hal itu tidak logis dan tidak dapat dibenarkan serta berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.

“Permintaannya sudah tidak masuk akal, mereka meminta di halaman kantor dewan, bukan di depan kantor. Di mana pun tidak pernah ada. Kemarin sudah dikasih waktu kami mundur 10 meter, tapi mereka tidak mau. Artinya, dengan seperti itu, berarti kan ada niatan yang tidak bagus,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).

Baca Juga:  Perempuan tanpa Identitas Ditemukan Meninggal di Bangkalan, Diduga Dibunuh Pria Bertopeng

AKBP Hartono menegaskan, pihak kepolisian telah menjalankan pengamanan sesuai prosedur. Namun karena situasi tidak terkendali dan massa mulai melempari batu, aparat terpaksa menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa.

“Kami sudah sabar, tapi ternyata dilempari batu dari depan dan dari sisi samping, akhirnya kami mengambil tindakan dengan gas air mata, itu pun mereka masih mengejar,” tegasnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Sementara itu, koordinator lapangan aksi, Rofi, membantah tudingan tersebut. Dia menyebut bahwa lokasi aksi di depan kantor DPRD. Sudah tercantum dalam surat pemberitahuan yang disampaikan ke Polres Sampang.

Baca Juga:  Tindak Penimbun Ratusan Liter Solar, Polres Pamekasan Perketat Pengawasan BBM Bersubsidi

“Saya sendiri yang bertemu Kapolres Sampang untuk berkoordinasi terkait titik lokasi aksi. Sesuai dalam surat pemberitahuan, kami meminta di depan kantor bukan dalam halaman kantor dewan,” jelasnya.

Rofi juga menilai tindakan aparat yang menembakkan gas air mata terlalu berlebihan. Dia menegaskan, seharusnya kepolisian mengedepankan pendekatan persuasif sebelum menggunakan kekuatan.

“Seharusnya, sebelum gas air mata ditembakkan, pihak kepolisian bisa memakai water cannon dulu. Apabila upaya itu tidak bisa meredakan massa, baru gas air mata bisa digunakan,” tukasnya. (yan/zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *