KABAR MADURA | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Ali Masykur menilai kontribusi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki dua prinsip independensi, makanya itu yang menguatkan eksistensinya dalam mengejawantahkan Islam tengah.
Ketua Cabang HMI Pamekasan Periode 2006-2008 itu menegaskan, dua independensi yang menjadi landasan utama organisasi, yakni independensi etis dan independensi organisatoris.
“Independensi etis HMI adalah tidak membela kelompok atau organisasi apa pun, kecuali membela kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki sejatinya hanya milik Allah SWT,” jelasnya, Kamis (5/2/2026).
Bahkan ditegaskannya, secara organisatoris HMI tidak didirikan oleh organisasi kemasyarakatan maupun partai politik mana pun.
Posisi tersebut, kata politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu, menjadikan HMI tetap berdiri tegak sebagai organisasi mahasiswa yang independen dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam moderat, Islam tengah, dan Islam rahmatan lil alamin.
Dia juga menyinggung sejarah penting HMI pada Kongres HMI ke-21 di Yogyakarta, ketika Prof. Dr. Nurcholish Madjid menyampaikan gagasannya, bahwa HMI seharusnya dibubarkan karena telah memasuki usia senja. Namun kenyataannya, HMI tetap bertahan dan terus melangkah maju.
“Yang membuat HMI tetap eksis dan berkembang hingga hari ini adalah sistem pengaderannya yang kuat dan berjenjang,” ujarnya.
Ali Masykur menyampaikan, pengaderan HMI dimulai dari Leadership Basic Training (LK I), dilanjutkan Intermediate Training (LK II), hingga Advance Training (LK III) yang melahirkan kader-kader tangguh dan berintegritas.
“Selamat ulang tahun HMI ke-79. Baktimu untuk negeri tak ternilai, pengabdianmu untuk Islam sepanjang masa. Go Ahead HMI, Khidmat HMI untuk Indonesia,” pungkasnya. (rul/zul)





