Oleh: Ach. Syarofi
Kader Muda NU Pamekasan
Kepergian Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, tentu menjadi duka yang sangat mendalam bagi masyarakat, terutama kalangan Nahdliyin. Ulama muda yang karib disapa Kiai Taufik ini wafat dalam perjalanan dari Pamekasan menuju Jember.
Sebelum wafat, Kiai Taufik di Pamekasan sempat menghadiri dan memberikan sambutan pada kegiatan Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) se-Kabupaten Pamekasan di Pendopo Ronggosukowati, Jumat malam (13/6/2025).
Semasa hidupnya, Kiai Taufik dikenal dengan sosok ulama yang kharismatik, akademisi yang humble, sederhana, murah senyum, tidak berjarak dengan siapa pun. Tidak heran, jika beliau diterima di semua kalangan masyarakat.
Kiprah Kiai Taufik sendiri tidak lepas dari dunia pesantren, akademik, dan Nahdlatul Ulama (NU), yang kesemuanya dijalankan secara tuntas.
Sebagai salah satu pimpinan pesantren di Pamekasan, tepatnya di Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom Palengaan, Kiai Taufik mampu membawa pesantrennya maju dan berkembang pesat. Hal itu terlihat dari banyaknya santri yang semakin membludak di setiap tahunnya. Begitu pula, pendidikan formal dan nonformal di pesantren tersebut semakin maju.
Meski padat agenda, Kiai Taufik tetap tidak pernah meninggalkan kewajiban kesehariannya dalam memberikan pengajaran kepada santri melalui agenda rutinitas pengajian.
Tidak hanya mengurusi pesantren di Pamekasan, Kiai Taufik juga merawat Pesantren Miftahul Ulum Kaligalagah Jember, pesantren peninggalan mertuanya, KH. Shofi Sholeh. Pesantren ini harus dirawat setelah mertua dari Kiai Taufik meninggal dunia.
Di Jember, kepemimpinan Kiai Taufik sangat dibutuhkan untuk mengelola pesantren ini. Setiap pekan, aktivitas Kiai Taufik harus bolak balik Pamekasan-Jember. Tentu, ini bukan sesuatu hal yang mudah, sebab menguras banyak waktu dan tenaga. Tapi, bagi Kiai Taufik, ini sebuah amanah yang harus dirawat dan dijalankan secara totalitas demi kemajuan dua pesantren.
Selain fokus pada pesantren, Kiai Taufik juga dikenal dengan sosok akademisi yang ulet dan telaten. Sebagai akademisi, beliau mengabdikan diri sebagai rektor Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIMU) Pamekasan, perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen.
Kiai Taufik sendiri, sosok yang kehidupannya sangat lekat dengan ilmu pengetahuan. Baru-baru ini, Kiai Taufik berhasil meraih gelar doktor di salah satu kampus NU ternama di Malang. Ini menunjukkan bahwa Kiai Taufik mampu menyeimbangkan antara dunia pesantren dan akademik, serta menunjukkan kepada masyarakat bahwa sesibuk apa pun kondisinya, pendidikan tetap yang utama.
Beliau juga aktif sebagai penulis baik di media cetak maupun online sebagai usaha menjawab segala bentuk permasalahan di masyarakat. Karya bukunya yang cukup fenomenal berjudul “Ber-Islam, Ber-NU, Ber-NKRI”. Buku yang mengajak untuk spirit berislam, berjam’iyah dan berkebangsaan dengan tepat dan benar.
Tokoh muda yang kharismatik ini juga menghabiskan masa hidupnya untuk mengabdikan diri kepada NU. Tercatat, Kiai Taufik dipercaya menjadi ketua tanfidziyah PCNU Pamekasan selama dua periode. Artinya, kepemimpinan Kiai Taufik mampu menjadi angin segar bagi Nahdliyin di Pamekasan.
Atas dedikasinya, NU di Pamekasan semakin hidup, lebih dinamis, rapi, solid dan mandiri baik di tingkatan cabang hingga ke akar ranting. Seperti halnya, bisa kita lihat di sektor perekonomian, bagaimana air mineral dalam kemasan merek “NUSAQU”, yang hingga saat ini masih eksis di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, banyak sekali gebrakan yang Kiai Taufik buat agar NU di Pamekasan tetap eksis, baik bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan, terutama dalam membasmi gerakan paham wahabi, HTI, dan organisasi terlarang lainnya yang ada di Bumi Gerbang Salam.
Kiai Taufik juga mampu merangkul dan tidak menutup mata pada pemuda. Seringkali menjadikan cafe sebagai tempat untuk tukar inspirasi dan kajian. Bagi Kiai Taufik, pemuda harus dibimbing sesuai zamannya, dengan tetap berpegang teguh pada norma. Tidak ayal, kalau Kiai Taufik tidak hanya disegani di kalangan santri, tetapi juga disegani oleh para pemuda, aktivis, dosen, dan ulama di Pamekasan.
Kini, ulama penggerak NU Pamekasan yang dikenal tanpa lelah itu sudah berpulang. Selamat jalan Kiai Taufik, semoga segala amal kebaikannya diterima oleh Allah dan kiprahnya menjadi amal yang terus mengalir. (*)





