KABAR MADURA | Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep Juhari mengatakan, pada 2025 nanti perlu pembaharuan data pengrajin batik di Sumenep. Alasannya, ada yang sudah punah dan hampir tidak ada masih tercatat di OPD teknis, ada pula yang aktif hingga saat ini belum masuk data.
“Updating data pengrajin batik itu sangat penting, bukan hanya sekedar didata ya,” kata Juhari, Senin (16/12/2024).
Politisi PPP ini yakin data yang dimiliki Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM dan Perindag)Sumenep tidak valid. Dia juga akan kroscek berkenaan data itu.
Juhari mencontohkan, penggarapan batik di Pakandangan yang saat ini cenderung macet. Hal tersebut disebut karena pemerintah tidak lagi peduli terhadap pengrajin sekaligus pengusaha batik.
“Seandainya pemerintah mengadakan pameran ciri khas batik Sumenep serta melakukan pendampingan, maka batik Sumenep akan maju kan,” paparnya.
Hal senada disampaikan pengusaha batik Kharisma di Pakandangan, Bluto, Ahmad Ghufron. Dikatakan bahwa selama ini tidak ada pendampingan atau pembinaan pada setiap wilayah sehingga semuanya cenderung mandiri.
“Tetapi, peran pemerintah sangat bagus agar kami jiga terbantu,” ucap dia.
Kepala Bidang (Kabid) Industri Diskop UKM dan Perindag Agus Eka Haryadi mengakui, produksi batik saat ini cenderung mandiri, artinya, pengusaha tanpa dibantu pemerintah. Pada saat ini, ada 500 orang, yang tercover sebanyak 73 usaha yang sudah mandiri dan dapat mengembangkan usaha sendiri.
“Kami janji akan updating data pengrajin batik nantinya, untuk persiapan pada 2025,” ujarnya. (imd/waw)





