KABAR MADURA | Upacara HUT ke-80 RI, Minggu (17/8/2025), menjadi panggung haru sekaligus kebanggaan, terutama bagi sosok muda Miranda Kusuma Atmaja. Dara kelahiran 2009 itu berdiri anggun membawa baki pusaka; perjalanan panjangnya sejak seleksi pada Februari lalu seolah terjawab dalam detik khidmat itu. Bukan hanya menjalani tugas kehormatan, melainkan juga awal dari jalan panjang menuju cita-cita yang dia dekap, serupa bendera yang dikibarkannya: tegak, kokoh, dan penuh harapan masa depan.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Kegugupan sempat menyelimuti Miranda ketika menerima Sang Saka Merah Putih dari Bupati Pamekasan. Setiap anak tangga menuju mimbar terasa begitu berat, seolah menahan beban sekaligus harapan. Namun di puncak momen itu, Miranda berhasil menampilkan sikap anggun dan tegas. Dengan langkah mantap, dia mengantarkan bendera pusaka hingga berkibar gagah di ujung tiang, menyatukan rasa haru dan bangga bagi semua yang menyaksikan.
Perjalanan Miranda menuju detik bersejarah itu tidaklah singkat. Keinginannya menjadi anggota paskibraka awalnya hanya sebatas angan, sesuatu yang kerap dia bayangkan tanpa tahu kapan akan terwujud. Namun gadis 16 tahun itu enggan berhenti pada mimpi semata. Sejak awal, Miranda serius menempuh jalannya dengan bergabung di ekstrakurikuler Gerakan Disiplin Baris-Berbaris (Geribra) di sekolah. Di situlah mentalnya ditempa, kedisiplinan dilatih, dan cita-citanya mulai menemukan pijakan nyata.
“Awal tahun 2025 ikut lomba PPI (Purna Paskibraka Indonesia) juga, kebetulan juara. Jadi keinginan untuk ikut seleksi paskibraka semakin terdorong, karena dapat lomba itu,” terang siswi SMA Negeri 1 Pamekasan tersebut, Senin (18/8/2025.
Namun, jalan itu tidak selalu mulus. Selama latihan, Miranda sempat drop karena kelelahan. Tubuhnya menolak, tetapi tekadnya tidak ingin menyerah. Di saat itulah keluarga hadir sebagai penyemangat. Doa dan dukungan orang tua menjadi mood booster yang membuatnya kembali bangkit, hingga mampu melewati hari-hari berat menuju momen puncak peringatan kemerdekaan.
Miranda sadar, posisi pembawa baki adalah dambaan banyak anggota paskibraka. Namun dia menolak berharap berlebihan. Baginya, semua rekan seperjuangannya memiliki kemampuan hebat. Sebab itu, ketika namanya diumumkan sebagai pembawa baki tiga hari sebelum acara, dia seakan mendapat anugerah yang tidak pernah disangka. Sulung dari dua bersaudara itu bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut.
“Dari awal sudah diyakinkan oleh orang tua bahwa saya bisa bertugas dengan baik. Afirmasi positif itu yang selalu saya pegang,” ungkapnya. Keyakinan itulah yang meneguhkan langkah Miranda, sejalan dengan cita-citanya menjadi seorang polwan di masa depan.
Pengalaman ini bagi Miranda bukan sekadar kehormatan pribadi, tetapi juga pelajaran hidup tentang arti kesetiaan pada proses. Dia berharap generasi muda berikutnya tidak mudah menyerah atau hanya mengejar hasil instan.
“Kuncinya semangat berlatih dan mau menikmati proses,” tutup gadis asal Desa Durbuk, Kecamatan Pademawu itu, seakan mengingatkan bahwa bendera yang dikibarkan tidak hanya simbol kemerdekaan, melainkan juga lambang harapan bagi masa depan. (zul)






sukses terus Miranda, selalu dibuat bangga sama anak ini 🔥