Lokalitas Madura Jadi Ciri Khas dalam Pentas Wayang Kulit Panti Budaya

News281 views

KABAR MADURA | Seni dan budaya harus dilestarikan, baik secara individu maupun melalui kelompok. Itu yang dilakukan oleh Panti Budaya saat ini. Paguyuban seni ini tengah fokus pada pelestarian karawitan dan wayang kulit Madura. Tujuannya, tentu untuk melestarikan seni budaya lokal yang kini mulai sepi peminat kaula muda.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Berdirinya Panti Budaya tentu berdasar suatu alasan. Berawal dari kesenangan terhadap gamelan, kini Panti Budaya memiliki misi khusus, yakni melestarikan seni budaya lokal. Berdiri sejak 1985 paguyuban seni ini telah ke beberapa untuk menampilkan maha karyanya. Setiap performanya, lokalitas Madura selalu ada di dalamnya. Mulai dari unsur cerita, bahasa, dan lainnya.

“Setiap malam Rabu, kami rutin latihan, seperti wayang kulit, gamelan, dan lainnya,” tutur Ketua Panti Budaya Novem Ali Sahos Sudirman, Minggu (28/1/2024).

Dia mengatakan, komunitasnya tersebut kerap kali melakukan pertunjukan di luar daerah. Uniknya, dalam pentas yang disuguhkan tetap menggunakan bahasa Madura. Dirman mengaku, semua penonton menikmati pementasannya, termasuk penonton yang dari luar Madura. Dirinya tidak khawatir akan pesan yang tersirat dalam pertunjukan tidak tersampaikan. Sebab, dengan begitu bisa menarik perhatian penonton untuk lebih mengetahui lebih dalam lagi.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

“Tidak dipungkiri, ada kalanya kami juga menggunakan bahasa Indonesia,” tambah pria yang memiliki nama panggung Ki Dirman Ali tersebut.

Biasanya, lanjutnya, pementasan wayang dilakukan ketika ada yang punya nadzar atau punya keinginan tertentu. Seperti nadzar dikabulkannya seseorang yang ingin punya anak, maka cerita yang diangkat tentang kelahiran para tokoh. Setiap cerita, memiliki makna dan tujuan yang berbeda.

Tidak dipungkiri, kata Dirman, dewasa ini kesenian lokal mengalami kemerosotan peminat. Oleh karenanya, dia mulai menjaring kepesertaan anak muda dalam komunitasnya tersebut. Hal itu perlu dilakukan agar ada regenerasi dalam pelestarian seni budaya Madura.

“Biasanya, dalam setahun tiga kali kita pentas di vihara. Ketika perayaan lahirnya Dewi Kwan Im,  Dewi Kwan Im menerima wahyu, dan Dewi Kwan Im mencapai nirwana. Dari perayaan-perayaan itu, ceritanya berbeda,” paparnya.

Redaktur: Sule Sulaiman

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *