KABAR MADURA | Achsanul Qosasi menjadi salah satu sosok yang tidak lekang oleh waktu dalam dunia sepak bola Indonesia. Dia bukan sekadar penggemar, melainkan figur yang benar-benar menyalurkan cinta dan dedikasinya demi kemajuan sepak bola tanah air.
Bagi masyarakat Madura, nama Achsanul Qosasi tentu sudah tidak asing. Dia adalah Presiden Klub Madura United, tim kebanggaan Pulau Garam yang kini menjelma menjadi salah satu kekuatan besar di kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia, Super League.
Di bawah kepemimpinannya, Madura United dikenal sebagai klub profesional yang tertata rapi, solid, dan memiliki karakter kuat.
Perjalanan pria kelahiran Sumenep, 10 Januari 1966 itu, di dunia sepak bola nasional sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an. Sebelum memimpin Madura United, Achsanul pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Persija Jakarta Selatan, lalu menjabat sebagai Bendahara PSSI periode 2007–2011.
Meski sempat berada di posisi strategis, masa-masa itu bukanlah perjalanan yang mudah. Pria yang akrab disapa AQ ini mengaku menghadapi banyak keterbatasan, terutama dalam hal pendanaan yang nyaris tidak mendapat dukungan dari pemerintah.
“Menjaminkan mobil untuk PSSI itu sering. Dulu begitu, PSSI itu tidak ada budget dari negara. Sekarang saja dapat 200 miliar, 300 miliar. Dulu negara ngasih 120 ribu dari KONI untuk bayar telepon,” ungkap AQ dalam kanal YouTube Akamsi.
Kesetiaan dan perjuangan Achsanul untuk sepak bola Indonesia bukan sekadar kata. Dia masih ingat betul bagaimana di tahun 2003, demi memastikan tim nasional bisa berangkat ke SEA Games di Hanoi, Vietnam, dirinya dan sejumlah pengurus PSSI harus menggadaikan harta pribadi.
Sekjen PSSI kala itu, Nugraha Besoes, menggadaikan mobil BMW miliknya. Achsanul pun menjaminkan mobil Harrier, sementara Ketua Umum Nurdin Halid ikut membantu dengan menggadaikan emas istrinya. Semua dilakukan demi merah putih tetap berkibar di ajang internasional.
Perlahan, dukungan terhadap sepak bola nasional mulai membaik. Titik baliknya terjadi ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala AFF 2007. Untuk pertama kalinya, pemerintah menyalurkan dana sebesar Rp20 miliar bagi PSSI. Meski begitu, jalan menuju turnamen itu tetap penuh dinamika.
“Begitu kita mau mundur dari AFF, Suzuki tidak mau mensponsori. Sehingga mau tidak mau Indonesia harus ikut, karena memang pembeli Suzuki semua di Indonesia,” ujarnya mengenang.
Kini, setelah lebih dari dua dekade berkiprah, salah satu fans berat Liverpool itu masih teguh di jalur yang sama. Melalui Madura United, AQ terus menyalurkan semangat dan cintanya untuk membangun klub sepak bola profesional yang menjadi kebanggaan masyarakat Madura dan Indonesia.
Dedikasi panjangnya membuat Achsanul bukan sekadar tokoh, tetapi simbol kecintaan yang tulus terhadap sepak bola Indonesia. (nur/zul)






