KABAR MADURA | Keberadaan seniman dan budayawan di Pamekasan memang cukup banyak. Namun, tidak semuanya memiliki eksistensi dalam berkesenian. Sehingga, beberapa di antara mereka namanya mulai meredup seiring berkembangnya zaman. Tapi tidak bagi Arief Wibiseno, seniman asal Desa Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu. Ia memiliki eksistensi tersendiri dalam berkesenian. Kecintaannya terhadap keris sudah ada sejak kecil, sebab dirumahnya ada keris peninggalan dari sang kakek.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Nama Arief atau yang biasa disebut Ayik itu eksis di dunia seni ataupun kebudayaan di Kota Gerbang Salam. Ia berhasil mendirikan rumah budaya, yang poin utamanya untuk melestarikan kebudayaan lokal, baik yang berupa benda ataupun nonbenda.
Selain sebagai seniman, Arief juga menjadi empu di Bumi Ratu Pamellingan. Ia meyakini, keris adalah warisan leluhur yang harus tetap dijaga dari generasi ke generasi. Baginya, keris tidak hanya sebatas senjata tradisional. Namun, ada tutur cerita dan nilai kesenian dalam keris. Bahkan, juga mengandung nilai keilmuan, baik sosial maupun teknologi. Itulah yang membuat ia menekuni diri sebagai empu keris di Pamekasan.
“Menekuni dunia keris sejak 2006, saat itu jadi panitia di event keris nasional yang pengunjungnya luar biasa. Disitulah mulai tergerak untuk membela budaya bangsa. Keris memiliki makna filosofi tersendiri. Salah satunya, keris Gerre Manjeng, yang menjadi ikon dari karakter orang Pamekasan,” ungkapnya.
Bagi Arief, memahami keris harus memahami dari segi segala aspek, mulai dari pembagian, jenis, manfaat, hingga histori di dalamnya. Dengan begitu, sebagai empu atau pembuat keris dirinya bisa menunjukkan eksistensi yang berbeda.
Padahal sebelumnya, Arief berprofesi sebagai juru kamera di salah satu stasiun televisi nasional pada 2001. Namun, kecintaannya di dunia seni dan keris membuat ia yakin, untuk menekuni keris dengan terjun sebagai empu. Perlahan, dirinya mempelajari suatu hal tentang keris. Hingga keris buatannya berhasil terjual di berbagai daerah bahkan ke luar negeri. Ia berharap, kesenian dan kebudayaan lokal tetap terus hidup di Pamekasan.
“Keris ini diburu oleh kolektor. Keris Pamekasan sendiri banyak disukai karena keindahan pamornya. Tapi di sini, keberadaan empu memang kalah militansi dengan kota sebelah, terlebih empu keris perempuan,” tutup pria kelahiran 1974 itu.
Redaktur: Sule Sulaiman





