KABAR MADURA | Pernikahan pengasuh muda Pondok Pesantren Annuqayah, Muhammad Shalahuddin atau yang akrab disapa Lora Mamak, dengan Inayah Wahid menjadi sorotan luas. Tak sekadar kabar bahagia, pernikahan ini dinilai sebagai simbol bersatunya dua kekuatan besar dalam lanskap keagamaan dan sosial Indonesia.
Lora Mamak yang merupakan bagian dari keluarga besar pesantren di Madura, resmi mempersunting putri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, dalam sebuah prosesi sederhana namun sarat makna.
Pernikahan ini mempertemukan dua poros penting: tradisi pesantren yang mengakar kuat di Madura dan warisan pemikiran kebangsaan dari keluarga besar Gus Dur yang dikenal luas di tingkat nasional.
Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Mohammad Hosnan Nafie, yang menyebut bahwa keduanya telah sah sebagai pasangan suami istri sejak awal tahun 2025.
“Pernikahan Ning Inayah Wahid binti KH Abdurrahman Wahid dengan Muhammad Shalahuddin atau Lora Mamak bin KH Abd Warits Ilyas telah berlangsung secara sah,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, akad nikah dilaksanakan secara khidmat dan tertutup di kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada 22 Januari 2025, bertepatan dengan 22 Rajab 1446 Hijriah. Prosesi tersebut berlangsung sederhana dan hanya dihadiri keluarga inti.
Kesederhanaan prosesi justru mempertegas nilai sakral dalam pernikahan tersebut, yang tidak mengedepankan kemewahan, melainkan makna dan ikatan dua keluarga besar.
Pasca pernikahan, hubungan kedua keluarga semakin erat. Hal ini terlihat dalam momen silaturahmi keluarga besar Gus Dur ke Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, usai Idul Fitri 2026.
Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, menjadi penegas bahwa ikatan yang terjalin bukan hanya antar individu, tetapi juga antar tradisi dan nilai yang mereka bawa.
Di kalangan Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren, sosok Lora Mamak kini semakin mendapat perhatian. Banyak pihak memandang pernikahan ini sebagai momentum penting yang menyatukan kekuatan keilmuan pesantren dengan jaringan pemikiran kebangsaan.
Lebih dari sekadar pernikahan, momen ini dinilai sebagai simbol harapan, lahirnya sinergi antara generasi muda pesantren dengan warisan pemikiran inklusif ala Gus Dur.
“Semoga menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah, ” pungkasnya. (ara/waw)





