KABAR MADURA | Pendapatan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura mencapai Rp1,3 triliun. Hasil tersebut didapat dari penjualan tenaga listrik sebesar 1,6 megawatt hour (MWh) di tahun 2024.
Pendapatan paling dominan adalah dari tarif penjualan listrik pengguna rumah tangga, mencapai 70 persen dari total pendapatan. Sedangkan 20 persennya dari tarif penjualan listrik bisnis dan 10 persen untuk industri. Listrik bisnis dan industri itu seperti pabrik rokok, tambak udang, industri perkapalan, pabrik es, dan lainnya.
“Targetnya lebih dari itu (jumlah pendapatan, red), tapi memang ini masih dibahas, karena terkait dengan anggaran juga, tapi kalau dilihat dari tren kenaikannya, yang jelas berada di sekitar Rp100 miliar,” papar Assistant Manager Keuangan dan Umum PLN UP3 Madura, Kharisma Nur Khakim, Rabu (19/3/2025).
Meski begitu, PLN mengklaim masih ada potensi hilangnya listrik ketika listrik disalurkan kepada pelanggan, seperti pencurian listrik, penggunaan yang tidak sesuai, serta lokasi yang tidak tersentuh jaringan seperti di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kepulauan.
Jika dibandingkan dengan pendapatan setiap tahunnya, beban biaya yang dikeluarkan mengalami kerugian 20 persen dari total biaya yang sudah dikeluarkan.
Meski sudah dilakukan berbagai upaya untuk melakukan penekanan terhadap jumlah kerugian yang sudah dikeluarkan dibandingkan dengan total pendapatan.
“Kalau dari pendapatan harusnya memang berbanding lurus dengan jumlah beban yang kami biayakan, tapi memang khusus wilayah Madura ini, biaya yang sudah keluar itu masih belum maksimal, karena masih ada susut atau potensi hilangnya listrik, pencurian tenaga listrik, dan jaringan yang jauh, ini menjadi pekerjaan rumah yang menambah beban biaya,” imbuh Kharisma.
Pendapatan di 2025 itu mengalami peningkatan dari yang dihasilkan pada 2024 senilai Rp1,2 triliun dari penjualan 1,5 MWh pada 2023. (rul/waw)





