KABAR MADURA | Kabupaten Sumenep di kepemimpinan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo kembali menorehkan prestasi nasional. Secara resmi mencatatkan sejarah dalam pelestarian budaya Nusantara, dengan ditetapkannya lima Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Sumenep oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2025.
Penetapan tersebut diumumkan dalam agenda Apresiasi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2025 di Jakarta. Dari total 514 karya budaya yang ditetapkan secara nasional, Sumenep tampil menonjol sebagai salah satu daerah dengan kontribusi signifikan.
Lima WBTB yang kini sah menyandang status nasional yakni Kuliner Mentho, Jamasan Keris, olahraga tradisional Balbuddi, Tari Tengtere’, dan Tari Gambu. Kelimanya bukan sekadar ekspresi seni dan tradisi, melainkan simbol jati diri, sejarah panjang, serta kearifan lokal masyarakat Sumenep yang terjaga lintas generasi.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pengakuan negara terhadap kekayaan budaya daerah yang dipimpinnya. Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari kerja kolektif dan komitmen jangka panjang dalam menjaga marwah budaya lokal.
“Penetapan ini menjadi bukti bahwa budaya Sumenep memiliki nilai tinggi dan layak diakui secara nasional. Ini adalah hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, budayawan, seniman, dan masyarakat,” ujar Bupati Fauzi.
Sebagai pemimpin daerah, Bupati Fauzi menegaskan bahwa lima WBTB tersebut bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi juga identitas masyarakat Sumenep yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Warisan budaya tak benda ini adalah jati diri kami. Pengakuan negara sekaligus menjadi amanah agar budaya tersebut terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.
Lebih jauh, ketua DPC PDI Perjuangan Sumenep itu menunjukkan komitmen kuat menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah, khususnya dalam penguatan karakter masyarakat dan pengembangan pariwisata berbasis budaya.
“Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi, menggerakkan pariwisata, dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Di tengah arus modernisasi, Bupati Fauzi juga menekankan pentingnya adaptasi budaya tanpa kehilangan nilai luhur yang diwariskan leluhur.
“Budaya harus tetap relevan dengan perkembangan zaman, namun nilai dan ruh tradisinya tidak boleh luntur. Inilah komitmen kami dalam menjaga warisan leluhur Sumenep,” tutupnya. (ara/waw)





