KABAR MADURA | Setelah sekian lama ditunggu, penambahan pupuk bersubsidi mulai menemukan titik terang. Surat keputusan (SK) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah terbit dan diteruskan menjadi SK bupati Sumenep Nomor 188/176/KEP/435.013/2024.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, awalnya pupuk bersubsidi mendapatkan 43.944 ton, terdiri dari urea 26.590 ton, NPK 17.354 ton, saat ini ditambah 38.663 ton, sehingga menjadi urea 45.444, NPK 37.094 ton, dan pupuk organik 69 ton.
“Ya penambahan pupuk bersubsidi saat ini sudah sudah turun,” kata Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid, Minggu (23/6/2024).
Saat ini, serapannya belum sampai separuh. Pupuk urea, dari 45.444 ton, saat ini terserap 11.105 ton, masih tersisa 34.339 ton atau 24,44 persen. Untuk pupuk NPK, dari 37.094, saat ini terserap 6.461 ton, masih tersisa 30.633 ton atau 17,42 persen. Sedangkan, pupuk organik belum terserap atau belum ada penebusan/peyaluran.
“Penyalurannya terus dilakukan pada melalui kelompok tani masing-masing, jadi untuk stok pupuk saat ini masih aman,” kata dia.
“Khusus pupuk urea dan NPK, seluruh kecamatan di Sumenep mendapatkan semua, sementara untuk pupuk organik hanya di Kecamatan Rubaru,” imbuh Chainur Rasyid.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Distributor Pupuk Indonesia (ADPI) Sumenep Mu’izzi Jauhari mengatakan, penebusan pupuk saat ini dibuka kapan saja. Di tingkat produsen lini II, seperti di dudang Desa Pakandangan,Gudang Kalianget, dan lainnya.
Meskipun pupuk itu sudah ada para petani. dia berharap agar jatah subsidi selama satu tahun tetap dikontrol supaya sesuai kebutuhan.
“Terkadang ada juga petani yang menghabiskan jatah pupuk subsidi selama satu tahun di masa tanam pertama. Sehingga petani kehabisan stok pupuk subsidi di masa tanam berikutnya. Nah ini perlu diperhatikan,” paparnya.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





