KABAR MADURA | Perbaikan sekolah atau renovasi sarana dan prasarananya tidak dilakukan di tahun 2025 ini. Penyebabnya, dana alokasi khusus (DAK) sektor pendidikan untuk APBD Sumenep tahun anggaran 2025 mengalami penyusutan besar.
Jika tahun sebelumnya Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep mendapatkan alokasi mencapai Rp64 miliar untuk pembangunan fisik, tahun ini DAK hanya berkisar Rp7 miliar dan hanya difokuskan untuk pengadaan alat peraga edukatif (APE) PAUD, tanpa ada proyek infrastruktur sekolah.
Kepala Disdik Sumenep Agus Dwi Saputra membenarkan bahwa tidak ada alokasi pekerjaan fisik seperti rehabilitasi atau pembangunan ruang kelas tahun ini. Dia menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari penarikan wewenang pengelolaan DAK fisik oleh pemerintah pusat, dengan fokus pada program nasional seperti makan bergizi gratis.
“Untuk tahun ini, DAK pendidikan Sumenep hanya digunakan untuk pengadaan alat peraga untuk PAUD. Tidak ada pembangunan fisik sekolah,” ujar Agus.
Tahun 2024 lalu, instansinya mendapatkan alokasi DAK sebesar Rp64 miliar yang digunakan untuk rehabilitasi dan pembangunan 47 sekolah dasar (SD), 15 sekolah menengah pertama (SMP), dan 7 taman kanak-kanak (TK) di berbagai wilayah.
Agus menilai, meski tidak mendapat porsi fisik, jika nantinya pembangunan infrastruktur ditangani langsung oleh pemerintah pusat, hal itu tetap menjadi kabar baik.
“Kalau memang semuanya dikaver pusat, justru lebih baik bagi kami. Tapi yang jelas, tahun ini kami tidak punya program fisik melalui DAK,” imbuhnya.
Menurutnya, kebutuhan perbaikan dan pembangunan fisik sekolah tetap menjadi prioritas, namun dengan efisiensi anggaran nasional dan perubahan kebijakan pusat, daerah harus siap beradaptasi.
“Dengan realokasi ini, sektor pendidikan Sumenep tahun 2025 dipastikan akan minim pembangunan fisik, dan lebih berfokus pada dukungan sarana edukatif non-fisik,” pungkasnya. (ara/waw)





